Thursday, February 11, 2016

Mengunjungi "Sonne!Energie +Kunst", Bermain dan Belajar

Hari ini guru les saya tidak mengajar di dalam kelas. Kami pergi ke pembukaan suatu pameran yang menampilkan kreasi anak-anak yang berhubungan dengan matahari.

Proyek ini merupakan proyek bersama antara KinderKünsteZentrums, Little Sun GmbH dan INA.KINDER.GARTEN GmbH. Anak-anak dari beberapa KITA (semacam Day Care) dan beberapa sekolah ini membuat suatu kreasi yang berhubungan dengan matahari dibantu dengan para seniman, mulai dari tenda kemah dengan alas kaca, spektrometri, replika matahari dan satelit buatan, sll. Awalnya saya tidak paham dengan si tenda :D. Apa istimewanya? Ternyata, alas kaca pada dasar tenda akan bekerja bila sinar matahari masuk ke dalam tenda dan si kaca maka sinarnya akan memantul dan membuat tenda tampak bersinar. Sayangnya tenda ini ada di dalam ruangan dan cuaca lagi mendung, jadi tidak bisa terlihat jelas. Di sini dijual juga senter matahari. Jadi, ceritanya senter ini akan sangat berguna bila berada pada daerah yang akses listriknya kurang seperti di Afrika. Si senter akan menyimpan tenaga matahari untuk diubah menjadi cahaya. Harganya 20 euro/bh.

Saya sebenarnya orang yang gagal paham akan seni. Kadang saya tidak mengerti dimana letak indahnya. Tapi yang bisa diambil pelajaran adalah mereka memberikan kesempatan setiap anak untuk berkreasi sebebasnya dan memberikan penghargaan akan usahanya tersebut. Terlihat sekali anak-anak yang turut serta proyek seni ini memancarkan rasa bangga dari wajah mereka. Yang istimewa lagi, beberapa dari anak ini ada yang memiliki keterbelakangan mental. Suatu pendidikan yang baik bagi anak-anak.

*Kadang sesuatu yang biasa di mata orang dewasa sebenarnya adalah sesuatu yang luar biasa bagi si anak*

Untuk selanjutnya pameran ini bisa dikunjungi oleh grup dari Kita atau sekolah setiap hari Selasa-Jumat, jam 9-13 (dengan janjian) dan hari Minggu,jan 11-18 untuk keluarga (tanpa janjian terlebih dahulu)

Tiket masuk 2,5 euro/Orang, 6 euro/1 keluarga, 20 euro/Grup

Menurut saya, anak Indonesia juga tidak kalah. Sayang medianya saja yang belum ada.

Yang digantung tersebut adalah senter matahari

Ini tenda yang awalnya saya tidak paham istimewanya :p

Bagus ya proyeksinya

Kegunaan baju ini apa ya?

Spektrometer. Kalau lihat dari arah yang salah maka tidak tahu maksudnya 

Matahari buatannya indah ya


Mobil matahari

Replika matahari dan satelit

Ini ruangan untuk membuktikan si senter mataharinya

Ini proyek tumbuhan membandingkan tanaman yang disinari dan tidak. Sama dengan proyek kecambah zaman SD dulu kan.




Saturday, February 6, 2016

Cafetaria TU Skyline...ngopi sambil rekreasi

Bangunan yang sangat tinggi di Berlin sehingga bisa melihat Berlin keseluruha  dari atas bisa dihitung dengan jari, kalaupun ada pasti biasanya setidaknya keluar uang atau kalau tidak harus rela mengantri seperti di Reichstag.
Nah, sambil ngopi tapi bisa melihat pemandangan Berlin dari panorama atas plus harga makananny nggak buat kantong bocor, bisa ditemukan di Cafetaria TU Skyline.

Idenya dari teman les setelah melihat website "Top ten in Berlin". Pertemuan akhir les ditetapkan di tempat ini. Lumayan les kali ini beberapa kali dilakukan diluar kelas.

Jalannya....
Alamatnya Ernst-Reuter-Plats 7, 10587 Berlin
Mencapai cafe ini tidak sulit, cukup turun di U-Bahn Ernst-Reuter-Platz(U2), lihatlah sekeliling maka mata akan bisa langsung menangkap tulisan  TU Berlin.
Berhubung saya datangnya lebih cepat, jadi saya berputar-putar lebih dahulu di daerah sekitarnya. Ternyata ada Gymnasium juga di daerah ini

15 menit sebelum waktu janjian, saya langsung masuk dan naik ke lantai 20...tara...sampailah di cafenya.

Kalian  bisa melihat pemandangan Berlin dari beberapa arah. (Sayangnya saya cuma ambil satu gambar).
Bahkan kalau mampir ke kamar mandinya, kita pun disuguhkan pemandangan Berlin dari atas. Jadi, saya rekomendasikan cafe ini untuk tempat nongkrong minum sambil melihat pemandangan gratis.

Jadi membayangkan seandainya punya flat di ketinggian :)

http://www.studentenwerk-berlin.de/en/mensen/speiseplan/tu_cafe_skyline/

Ternyata Si Kecil pun Bisa Alergi terhadap Buah dan Sayur

Berawal dari pengalaman, beberapa kali muncul bintik-bintik merah di sekitar mulut si kecil yang pada mulanya saya ga' ngeh sama sekali kalau si bintik muncul setelah makan si buah warna merah satu ini. Sampai akhirnya, guru di Kindergartennya bilang kalau di sini banyak yang alergi terhadap buah. Termasuk si kecil Livi yang bahkan alergi terhadap apel.

Wiih, langsung ingatlah kalau buah dan sayur pun bisa nyebabin alergi (secara jarang banget kan di Indonesia, ada anak yang alergi terhadap buah). Kalau jenis kacang-kacangan mah sudah umum diketahui dan di"titeni".

Pada umumnya si buah ini akan menyebabkan alergi kalau dimakan saat mentah. Kalau sudah matang pada umumnya jarang menyebabkan alergi karena susunan kimia proteinnya yang sudah berubah.

Gejalanya bagaimana?
Gejala akan muncul bermacam-macam, mulai dari yang ringan seperti gatal dan geli di sekitar mulut, muncul bintik-bintik merah, bahkan bengkak di bibir luar atau dalam mulut. Nah, kalau sudah begini biasanya disebut Oral Allergy Syndrome. Gejala yang lebih berat bisa menyebabkan suara serak, sulit bernapas, dan asma.
Gejala ini akan muncul dalam menit pasca makan buah yang alergi tersebut,tapi kadang-kadang memakan waktu 1-2 jam.

Nah terus buah apa lagi yang bisa menyebabkan alergi:
1. Golongan Rosaceae: apel,pir, cherry, peach, plum.
2. Golongan Cucurbitaceae: timun, melon, semangka, zucchini, labu.
3. Kiwi: Ini buah yang paling sering menyebabkan alergi dan mungkin saja reaksinya lebih berat daripada reaksi terhadap alergi yang lain. Beberapa orang yang alergi terhadap kiwi ini biasanya muncul reaksi juga terhadap pisang, alpukat dan latex (cross-reactivity).

Apa sih sebenarnya yang menyebabkan alergi?

Kebanyakan yang alergi buat ini berhubungan dengan protein yang disebut profilins, yang sering ditemukan di pohon, rumput, dan  serbuk sari gulma.
Sekitar sepertiga dari yang alergi terhadap serbuk berhubungan juga dengan profilins, dan orang dengan hay-fever terhadap profilins mungkin pernah merasakan gejala yang sama setelah memakan melon, semangka, golongan citrus (jeruk), tomat dan pisang

Alergi buah (dan sayur) secara general lebih umum pada amak yang lebih besar dan remaja. Meskipun penelitiannya madi terbatas, kebanyakan anak yang alergi buah (dan sayur) inicenderung berlanjut hibgga besar, kecuali alergi terhadap kentang, cenderung membaik seiring waktu.

Bagaimana memastikan kalau si anak alergi terhadap buah dan sayur?
Bisa kita "dititeni" dari beberapa kali pemberian (provokasi dan eliminasi makanan) dan untuk lebih yakin lagi kita bisa lakukan tes alergi, Skin Prick Testing, dll yang bisa dilakukan di RS besar. 

Cara membedakan anak yang alergi dan intoleran?
Alergi dan Intoleran ini sering rancu. Pada anak yang alergi pada umumnya lebih peka, dengan memakan sedikit saja, gejala seperti di atas bisa muncul dan berhati-hatilah untuk munculnya gejala lebih berat yang bisa mengancam nyawa. Sedangkan pada kasus intoleran, jarang sekali yang mengancam nyawa kecuali tidak ditreatment dengan baik. Tentang intoleransi makanan, di bahas nanti deh (PR saya nih).

Kalau baca kasus yang seperti ini saya jadi gagal fokus ke para Ant*v*ks.
Apapun bisa berhubungan dengan alergi dan bisa menyebabkan reaksi alergi. Kita tidak pernah tahu kapan orang tersebut punya alergi dan bagaimana respon tubuhnya terhadap si bahan tersebut. Ada yang muncul ringan bahkan ada yang lebih berat, sampai penanganan yang diberikan pun tidak bisa menolong. 

Nah iya, kalau alergi terhadap buah A, kita bisa cari buah B, C, dst yang kandungannya sama atau hampir mendekati. Nah, kalau ada yang alergi terhadap suatu vaksin? Tidak memberi vaksin sama sekali pada anaknya bukan suatu solusinya. (Kalau di jawab lagi, lah pilihannya kan: biarkan alam dan sistem imunnya membentuk imunitasnya), maka jawaban saya:

#Seandainya yang awam (bukan basic tenaga medis), yuk belajar lebih mendalam lagi tentang imunologi, jangan hanya ambil dari internet jurnal dan beritanya. Itu laksana "mengambil cuplikan". 
#Seandainya yang sudah jadi tenaga medis, yuk ilmu imunologinya diperdalam lagi dan kembali menilik ke sejarah, kenapa bisa muncul vaksin.
#Seandainya yang sudah S3 di imunologi tapi masih juga, yuk di baca benar-benar bukunya dan coba buka buku medisnya.

Saya yakin jawabannya: Please, para ahli marilah teruskan proyek vaksinnya sambil berusaha mengembangkan vaksin yang lebih baik. #Haha gagal banget saya fokusnya. Abaikan


Sumber:
https://www.allergyuk.org/allergy-to-fruit-and-vegetables/allergy-to-fruit-and-vegetables
https://en.m.wikipedia.org/wiki/Fruit_allergy

allergicliving.com/category/food-allergy-2/fruit-vegetable/

Sunday, August 2, 2015

Sistem Pendidikan di Jerman

Tidak ada anak yang bodoh, yang ada hanyalah anak dengan kemampuan yang berbeda dan tugas orang tua adalah memfasilitasi segala sesuatu sesuai kemampuan si anak, termasuk saat memilihkan sekolah.

Masih ingat sistem kelas unggulan waktu usia wajib belajar 9 tahun dulu? Dimana anak-anak yang nilainya memenuhi syarat menengah ke atas dijadikan kelas tersendiri yang mengakibatkan persaingan agak ketat di kelas ini. Saat SMP saya pernah merasakan sistem pendidikan yang tidak dikotomi alias tidak ada namanya kelas unggulan alasannya biar anak tidak minder, jadi tiap kelas memiliki rata-rata nilai yang hampir sama.

Lain di Indonesia lain pula di Jerman
Materi mengenal sistem pendidikan  di Jerman ini dimasukkan sedikit-sedikit dalam buku diktat kursus bahasa Jerman. Meski saya tidak diwajibkan kursus integrasi (integration kurs) saya jadi tertarik mempelajari lebih lanjut sistem pendidikan di Jerman. Tertarik juga g? Siapa tahu anak-anak kita nanti bisa mendapat kesempatan mengenyam pendidikan di negara maju satu ini.

Saturday, July 25, 2015

Liburan... edisi Pisa


Piazza del Duamo dari atas
Pisa, 3 Juni 2015

Ini kota terakhir yang kami kunjungi sebelum memasuki Jerman. Perjalanan dari Fez ke Pisa, alhamdulillah tidak ada halangan. Pesawat berangkat dan tiba tepat waktu di Bandara Galileo Galilei (hmm, apa Galileo Galilei orang Italia ya). Sampai di tempat, langsung diarahkan menuju pemeriksaan paspor yang terbagi 2, antara warga EU (Europe Union) dan non-EU, dilanjutkan pemeriksaan x-ray barang-barang. Keuntungan bawa anak kecil; si petugas memotong jalan buat kami (juga untuk orangtua yang berkursi roda).  Selesai...huff tidak ternyata di pintu keluar masih ada petugas membawa anjing, mungkin untuk kasus obat-obatan kali yaa (sotoy deh). Sayang kami bukan penyelundup obat-obatan, jadi lancar saja melewati si anjing. hehe.

Keluar bandara saya mencium bau harum semerbak dari suatu bunga yang ternyata berasal dari bunga putih yang menutupi hampir seluruh atap bandara. Tampak bagus dan cantik jadinya penampakan si bandara. Karena memasuki musim semi dan matahari tenggelam jam 21.00, jadi saya masih bisa penampakan kota Pisa saat terang meskipun saat itu jam sudah menunjukkan jam setengah 09 malam. Senangnya...Dari bandara ke penginapan sebenarnya tidak terlalu jauh, tapi kami harus segera check in ke hostel paling lambat jam 22.00, kalau tidak kami bisa tidur di jalan, makanya suami memutuskan untuk naik bus.
Bunga ini lho yang membuat bandara berbau harum dan bandingkan foto yang diambil jam 20.30 dan 12.00

Busnya keren tapi dalamnya sempit dan masil pake manual untuk uang kembalian :D

Friday, July 24, 2015

Pengalaman Memvaksinasi Anak di Jerman

Tergelitik ingin berbagi kisah memvaksinasi si kecil di Jerman setelah melihat debat suami dengan salah satu grup antivaks yang sempat menyiratkan bahwa imunisasi di Jerman tidak seintensive di Indonesia dan penggunaannya dibatasi karena dianggap berbahaya bagi anak-anak.

Saya sih tidak ingin ikut-ikutan berdebat, mana yang benar dan mana yang salah. Ilmu itu berkembang terus kawan, bahkan Islam pun mendukung terhadap perkembangan ilmu bukan. Saya juga percaya bahwa para scientist yang berkecimpung di dunia penelitian vaksin itu bukan semata-mata dibayar oleh perusahaan vaksin, tapi mereka murni mencari hal-hal yang baru, yang pada ujungnya bermanfaat bagi orang banyak. Kalau pada akhirnya mungkin mereka benar (entahlah), toh apa yang ada di masa ini pastilah akibat kejadian wabah yang lalu dan saya percaya lebih banyak manfaat daripada mudharatnya kalau dilakukan. Dan jawaban suami cukup mengejutkan setelah saya ledeki, "hayo abi, setelah debat agak keras begitu, bagaimana kenyataannya kalau kaum antivaks ternyata benar?". Apa jawaban suami? "Saya tidak malu kok untuk mengakui kalau ternyata saya salah." (Kereen..:p). Jadi curhat karena punya suami peneliti :D

Tapi ingin juga nih membuktikan prasangka itu........ :)

Kesempatan datang....saat memasukkan si kecil pertama kali ke Kindergarten (Kita) usia 16 bulan, si penanggungjawab di Kita menyerahkan lembar yang harus diisi oleh dokter anak tentang riwayat kesehatan dan imunisasi apa yang sudah diterima dan wajib dikumpulkan sebagai referensi kesehatan untuk Kitanya.

Maka kami pun segera membuat janji dengan dokter anak di suatu tempat yang agak jauh dari rumah. Sebenarnya ada juga di dekat tempat tinggal kami, di sampingnya Kita lagi tapi ngantrinya itu lho lama dan ada kemungkinan kalau lama begitu, pemeriksaannya biasanya terburu-buru (hehe, langsung menghakimi nih). Oiya, tentang dokter anak ini tidak seenaknya lho kita bisa berganti-ganti (tapi saya sempat berkunjung ke 3 dokter anak. hehe). Kalau sudah dari awal di dokter A, selanjutnya ya di dokter A. Kalau mau ganti boleh saja, tetapi tidak berganti-ganti. Malah kadang kalau kita pindah, dokter B itu seperti enggan melayani. Tapi memang baiknya 1 dokter sih, biar dokternya benar-benar paham perkembangan si anak. 
Sampai di sini, saya masih bertanya-tanya, "bener g ya dokternya anti vaksin?"

Konsultasi pertama ini bertepatan juga dengan jadwal U6. Apa itu U6? U6 ini salah satu dari program U -screening yang ada di Jerman. Totalnya ada 11 (U1-U11). Di program skrining ini, dokter tidak hanya memeriksa perkembangan dan mengobati bila ada masalah, tetapi juga ternyata memberikan imunisasi sesuai jadwalnya. Tentang U1-U11 klik di sini dan dokter kami ini menyarankan untuk imunisasi. Setelah kami menceritakan bahwa di Indonesia pun si kecil sudah pernah dapat imunisasi wajib akhirnya si dokter menunda imunisasi apa yang akan diberi sampai kami membawa surat keterangan medis alias catatan perkembangan dan imunisasi apa yang diberikan saat di Indonesia (yang ada di buku warna pink BKIA itu lho) dan janjian berikutnya 1 minggu kemudian. Nah...dari 3 dokter yang saya kunjungi di semua ruang tunggu ternyata terpampang poster-poster yang menyarankan anak-anak harus melakukan U-screening dan imunisasiny. Na und?
Banyak mainan

Jadwal imunisasi terpampang jelas

1 minggu kemudian, kami datang kembali dengan membawa berkas-berkasnya dan dari buku pink itu si kecil belum mendapat MMR, Varisela, dan meningokok suatu  imunisasi yang "dianjurkan" bukan "diwajibkan" di Indonesia (berdasarkan IDAI tahun 2010) dan mengingatkan kembali pada usia 24 bulan nanti datang lagi untuk U7. 

Sedikit cerita nih, pemeriksaan oleh dokter anak ini sedikit berbeda dengan di Indonesia, g parah kok bedanya, cuma bisa jadi referensi nih kalau buka klinik :D. Setelah menyerahkan kartu asuransi dan data tentang anak, kami dipersilahkan menunggu di ruang tunggu (yang penuh mainan), pasien akan dipanggil sesuai dengan daftar dan prioritasnya adalah ''siapa yang sudah membuat janji didahulukan dibanding yang datang lebih dahulu". Sampailah nama kecil dipanggil dan kami dipersilakan masuk ke dalam kamar periksa sambil diminta untuk mempersiapkan si kecil (maksudnya dibuka baju dan celana sampai cuma pake pampers doang) sebelum dokter datang. Kamar-kamar periksa ini ada banyak jadi si dokter "lompat" dari satu kamar ke kamar lain saat pasien sudah siap. Cukup efesien sepertinya sehingga waktu konsultasi bisa lebih lama daripada "berperang" dengan si kecil yang takut diperiksa. Kalau di Indonesia kan (pengalaman saya sih), saat baru mau diperiksa fisik baru si kecil dipersiapkan.

Setelah menunggu 5-7 menit, masuklah di dokter dan sambil berjabat tangan menyebutkan nama. Kemudian setelah bertanya-tanya mulailah si dokter memeriksa si kecil dari ujung kepala sampai kaki, lubang telinga, mulut dan tenggorokan, serta paru-paru. Setelah kondisi dinyatakan sehat untuk diimunisasi, si dokter memberi instruksi pada perawat untuk mempersiapkan imunisasinya. Aih, ternyata imunisasi langsung memakai 2 suntikan di paha kanan dan kiri. Sempat agak ngomel dalam hati nih karena saya sempat berharap lebih "ini negara maju, masa' imunisasinya ga bisa di combo sih. Jadi kan agak manusiawi. Mana jarum suntiknya yang dipakai no.23 lagi. Sakit lho meski orang dewasa, apalagi ini anak-anak" :D. 

Setelah disuntik ini, prosedurnya tidak boleh langsung pulang melainkan harus menunggu 30 menit untuk menunggu reaksi alergi/hipersensitivitas terhadap vaksinnya karena reaksi alergi/hipersensitivitas yang berat bisa sampai fatal sampai mengancam jiwa lho. Tapi, alasan ini jangan dijadikan alasan untuk tidak vaksin lho ya karena bila kita melakukan prosedur dengan  benar maka anak bisa selamat kok dan kasusnya juga cuma 1:1.000.000. Cuma ya itu tadi ikuti prosedur, tunggu dulu; jangan terburu-buru pulang :)

Jadwal untuk U7 sebenarnya harus di usia 21-24 bulan setelah kelahiran ini kami lakukan di dokter berbeda karena kami menemukan lagi yang lebih dekat rumah dengan waktu tunggu tidak terlalu lama. Sayangnya kami lupa untk melakukan U7 sampai usia si kecil sudah 25 bulan. Padahal tahu tidak, burgeramt alias kantor kecamatannya (RALAT: seperti kantor kabupaten/kotamadya) sudah mengirimi surat yang mengingatkan untuk jangan lupa memvaksinasi pada saat menjelang 24 bulan kemarin dan 3 minggu yang lalu bahkan kami di beri peringatan untuk segera melakukan U7 sampai batas toleransi bulan September nanti (aduuuh kok bisa lupa siih). Sayangnya suratnya sudah hilang jadi tidak bisa saya foto sebagai bukti :D. sampai segitunya kan pemerintah Jerman ngubek-ngubek masalah imunisasi.

Di U7 nanti sepertinya akan mendapat imunisasi Difteri, Tetanus dan Hib. Yuk, minggu depan ini kita lihat imunisasinya combo atau bukan seperti di Indonesia.. 
         
Update....
Senin kemarin si kecil sudah melakukan U7 nih. Skrining tentang kemampuan bicara, cara berjalan, tinggi badan dan berat badan, refleks dan abnormalitas yang lain. Terakhir di bilang akan ditambahkan lagi imunisasinya DPT-Combo booster dan Polio dan pneumokok. Tetap memakai 2 suntikan dengan ukuran jarumnya lebih kecil tetapi ternyata vaksinnya pun combo bahkan vaksin polionya pun masuk dalam suntikan. 

Label vaksinnya tak lupa di tempel di buku kuning, buku yang harus di bawa kemanapun si kecil melakukan imunisasi meski berbeda dokter. Selesai imunisasi si perawat mengecek apakah kami memiliki obat panas atau tidak di rumah dan selanjutnya diperbolehkan pulang. Loh kok? Katanya harus menunggu 30 menit. Ternyata alasannya karena ini bukan merupakan imunisasi pertama dan tidak ada riwayat alergi pada imunisasi sebelumnya, jadi mereka anggap aman. Boleh pulang deh. Hasil dari pemeriksaan ini sepertinya akan dilaporkan ke Bezirkamt (karena U6 kemarin kami tidak mendapat surat apapun) sehingga mereka tidak perlu mengingatkan lagi. Entah apa yang akan terjadi kalau sampai batas yang diberikan, si kecil belum melakukan U7 ya dan g mau coba-coba ah.

Oiya, ternyata aturan "yang sudah membuat janji didahulukan" tidak berlaku kali ini. Kami harus menunggu 1 jam dari waktu yang dijanjikan meskipun kami sudah datang 45 menit dari waktu janjian.

Bandingkan juga jadwal imunisasi di Jerman (ada UK juga) klik di sini dan program imunisasi di Indonesia
mirip lho :D

Jadi kesimpulannya....

Tuesday, July 21, 2015

Liburan... edisi Madrid part 2

Tema liburan kali ini adalah Backpackere :D Semi backpacker dengan mengusahakan budget seminim mungkin. Maklum suami masih "student" :D

Los Amigos, Hostel untuk Para Backpacker
Kami tiba di Opera sekitar pukul 01.00 dini hari. Kenapa di Opera? Karena hostel yang kami pesan berada di sini. Nama hostelnya Los Amigos, hostel untuk para Backpacker, murah dan letaknya strategis, berada di tengah daerah wisata. Pemiliknya bernama Ruben, bapak-bapak bertubuh tinggi besar dan tambun. Tampaknya hostel ini dikelola oleh sebuah keluarga. Ruben dan staf lainnya sangat ramah dan suka anak keci.
Los Amigos dan si pemilik, Ruben

Lokasi hostel dari U-Bahn Opera tidak jauh. Saat keluar dari U-Bahn dan melihat jalanan di Madrid, kesannya seolah-olah melihat scene film televonela secara langsung :D. Hostelnya berada di lantai 4 jadi harus naik lift. Kami disambut Ruben yang menunjukkan letak kamar. Kamar kami kecil tapi nyaman. Meski sempit, tapi efek kaca besar membuat kamar terasa luas dan yang paling penting mereka pun menyediakan tempat tidur bayi asalkan kita sudah bilang saat booking. Untuk yang bepergian sendiri bisa memesan kamar yang terdiri dari beberapa tempat tidur bersama kawan backpacker lainnya, seperti rombongan wisata anak sekolah yang saat itu ikut juga menginap di Hostel.  Kamar mandi digunakan bersama dan tidak boleh digunakan selama jam 23.00-07.00 agar tidak mengganggu tamu yang lain.
Fasilitas yang diberikan hostel ini adalah kamar dibersihkan tiap pagi, sarapan pagi (aneka cereal, kopi, teh, susu, roti dan kue. Kadang mereka menambahkan kue khas Spanyol) yang modelnya ambil sendiri suka-suka di dapur, kecuali yang tambahan ya dan free wifi. Khusus untuk dapur ini, kita bisa memasak sendiri tetapi semua pun harus dibereskan sendiri. Kalau kita punya makanan yang mudah membusuk, bisa kita titipkan di kulkas mereka asal ada nama dan keterangan lain. Labelnya disediakan. Batas menggunakan dapur sampai jam 23.00
Kita juga bisa meminta peta Madrid dan mengeprint dengan tarif 50 cent/lembar. Berapa tarif nginap 3 hari? 126 euro untuk 2 orang. Lumayan murah untuk daerah touristik.
Dapur Los Amigos dan kulkas tempat untuk menitipkan makanan
Mencari Makanan Halal di Spanyol
Agak sulit menemukan restoran yang benar-benar terjaga kehalalannya. Di pusat turisnya kami hanya menemukan 1 restoran arab yang berlabel halal dan tidak menjual alkohol sama sekali ada di jalan del San Bernardo. Selebihnya, berlabel halal tapi menjual alkohol juga.
Menu Arab


Mungkin yang banyak pilihan halalnya kalau kita melipir sebentar ke pinggiran Madrid alias ke tempat-tempat warga lokal yang jarang dikunjungi turis. Tempat seperti ini banyak ditemui saat kalian mengunjungi Masjid terbesar di Madrid, yaitu di distrik Cuatro Caminos. Banyak wajah timur tengah yang bisa ditemui di sini plus toko dan restoran yang menjual makanan halal. Di distrik ini pula, akhirnya saya bisa potong rambut di salon muslimah yang tertutup milik seorang wanita arab. Menurut pemiliknya, ini adalah salon muslimah pertama dan baru buka 1 tahun yang lalu.