Monday, July 20, 2015

Deteksi Dini Buta Warna pada Balita

Hari ini saya lagi bertekad mengajarkan kembali si kecil "tentang warna". Dulu sih sudah pernah mencoba memperkenalkan saat usianya 15 bulan, tapi sepertinya saat itu hanya membeo, belum benar-benar paham akan perbedaan warna. Ternyata warna yang dia bisa cuma pink dan jingga, selebihnya terbalik-balik. Terutama warna hijau, selalu yang ditunjuk warna biru. Ups, pikiran si emaknya ini sudah macam-macam, "jangan-jangan si kecil buta warna?"


Buta warna, penyakit yang satu ini memang tidak membahayakan tapi bisa menggelisahkan orang tua si anak yang menderita. Masih teringat jelas saat dulu mendapati beberapa anak yang baru tahu kalau dirinya buta warna saat sudah remaja. Responnya, hampir semua menangis karena cita-cita yang mereka impikan melampirkan keterangan "tidak boleh buta warna" , yang berarti kandas dong. Bahkan ada yang karena tidak percaya, datang lagi keesokan harinya dengan orangtuanya. Saya sih sudah hampir takut-takut orangtuanya bakal marah seperti yang pernah saya alami sebelumnya, dimarahin orangtua anak buta warna menuduh tesnya salah. Mereka tidak percaya, bagaimana bisa si anak buta warna padahal dirinya dan istrinya tidak.


Pemeriksaan buta warna ini cukup mudah dan meriah. Salah satunya menggunakan buku ishihara, si pasien menyebutkan secara cepat angka yang tertera pada plate (lembar) ataupun mengurutkan jalan keluar dari satu titik ke titik lain (seperti ular). Bila dia salah menyebutkan atau tidak tahu angka berapa yang tertera, berarti dia buta warna. Dengan catatan: si pasien tidak buta aksara ataupun disleksia.
Salah dua, tiga dan seterusnya seperti di bawah.
http://www.colorblindnessfacts.com/wp-content/uploads/2013/02/g-580x350.jpg
Plate di buku ishihara (http://www.colorblindnessfacts.com/wp-content/uploads/2013/02/g-580x350.jp)
Nah, kalau yang diperiksa adalah balita, bagaimana caranya? 
Tiap kali tahun ajaran baru, pasti saya kebagian pemeriksaan kesehatan para pelajar. Untuk pelajar yang masuk SD, SMP, dan SMA sih gampang-gampang saja. Nah begitu kebagian pelajar yang mau masuk TK ini, gampang-gampang susah berhubung yang ada di klinik adalah plate ishihara yang berisi angka. Beruntung kalau dapat anak yang sudah diajari warna ataupun angka oleh orangtuanya jadi meski memakan waktu lebih lama, hasilnya bisa jelas si anak buta warna atau tidak. Itu pun belum lagi terkendala si anak "malu-malu kucing". Kalau sudah agak lama dan si anak belum-belum bisa, akhirnya saya tulis saja "tidak dapat dievaluasi". Sayang sebenarnya, mengapa? Mengetahui buta warna sejak dini sangat diperlukan orang tua sehingga bisa mempersiapkan mental anak bahwa dirinya sedikit berbeda dengan yang lain dan juga mempersiapkan pandangan karir ke depannya sehingga tidak mengecewakan si anak kalau yang menghambat bukan dari intelegensianya. Buta warna yang di alami pun bisa menyebabkan stigma bahwa si anak "bodoh dan tidak teliti" serta menghambat proses belajar seandainya orang tua tidak mengetahuinya sejak dini.

Sebagai contoh:
1. Budi sedang membaca buku pelajaran. Pada buku pelajarannya tertera perintah untuk menggambar garis menuju bola berwarna merah. Sementara ada beberapa pilihan warna bola, misal coklat yang hampir mirip dengan warna merah. Alhasil, Budi mencoba menebak-nebak. Saat seperti ini, biasanya si guru mengingatkan untuk lebih teliti lagi dan tidak asal. Padahal, Budi berusaha dengan benar-benar
2. Seorang guru menulis di papan tulis berwarna hijau menggunakan kapur berwarna kuning pada saat siang hari yang mengakibatkan kontrasnya warna agak hilang. Alhasil, Budi melihat catatan temannya.
3.  Ani, murid pintar diminta gurunya untuk mengambil buku berwarna biru kehijauan di atas meja gurunya. Saat akan mengambil, dia agak kesulitan mendapati buku tersebut di antara tumpukan buku lainnya 
4. Saat kita mengajari si anak warna. Anak yang buta warna pasti kebingungan saat orangtua ataupun gurunya menjelaskan warna yang berbeda padahal dalam pandangannya, beberapa warna itu sama sehingga mengakibatkan si orangtua ataupun guru menganggap anak ini lambat menerima. Kasihan kan...

Saturday, July 11, 2015

Jungkir Balik Belajar Bahasa Jerman

 Image result for deutsch lernen
Ini adalah curhatan saya yang saat ini lagi bingung....

Mungkin saya agak lebay nih ngasih judul, tapi inilah yang terjadi. Kalau teman-teman yang lain merasa belajar bahasa Jerman itu mudah, itulah yang terjadi pada saya pada saat awal belajar. Akan tetapi begitu mempelajarinya lebih lanjut, semua tampak berputar-putar di kepala. Baiklah saya coba cari telusuri permasalahannya sehingga saya agak muntah saat belajar:

1. Awalnya terasa mudah
Ya iyalah, secara A1 itu adalah dasar yang harusnya sudah saya pelajari sebelumnya di Indonesia, sedangkan saya terlalu malas utuk belajar saat itu sehingga belajar dari awal saat sudah di Jerman dan hasilnya memang dapat nilai memuaskan saat ujian. --> karena memang mudah

2. Jarang aplikasi dan tidak pernah membiasakan diri berbicara dan mendengar membuat lambat
Image result for deutsch lernen
Sudah hampir 10 bulan tinggal di Jerman tapi jarang ngobrol dengan native speakernya. Nah ini yang namanya bodoh. Sudah tinggal di Jerman tapi tidak menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Tidak punya televisi dan radio (alasan saja) padahal bisa menggunakan laptop dan harusnya eman sudah membayar 18 euro per bulan untuk itu, jarang bergaul dengan native alias sering bersama teman Turki yang jarang berbahasa Jerman, jadi untuk berbicara menggunakan bahasa jerman "asal mengerti" atau bahasa isyarat, dan seringnya ketemu teman dari tanah air, jadi g maju-maju. Saya jadi ingat beberapa teman sesama kursus yang berkembang lebih cepat speakingnya (meski grammarnya salah) karena mereka lebih banyak aplikasi dengan partnernya yang orang Jerman ataupun berhubungan dengan orang Jerman karena pekerjaan.
Syukurlah saat ini saya sudah punya teman "Deutsche" asli yang mulai dekat dan punya banyak teman Turki yang lancar berbahasa Jerman karena lahir di sini.
Mulai banyak nonton film berbahasa Jerman meski harus rebutan laptop dan I-pad dengan si kecil :D

Monday, July 6, 2015

Liburan ke Wroclaw, Polandia

 
Jumat, 22 Mei 2015

Liburan kali ini kami mengunjungi teman S3 suami di Wroclaw, Polandia. Perjalanan dengan menggunakan Polski Bus dengan tiket seharga 8 euro ini tidak terlalu melelahkan. Memang sih perjalanan hanya memakan waktu 5 jam (sama seperti jarak dari tempat kerja saya dulu ke kota), tapi perjalanan ini lintas negara, jadi jangan lupa selalu membawa paspor dan identitas diri sebab bisa saja ada pemeriksaan seperti yang kami alami kemarin. Kami naik dari terminal Berlin. Suasana terminal di Indonesia dan di sini menurut saya sama saja. Cuma terminal di Berlin ini sedikit lebih kecil dan lebih bersih. Bus yang ada pun hampir sebagian besar terdiri dari 2 tingkat. Tempat duduk yang paling menyenangkan adalah yang ada di atas dan paling depan sehingga bisa melihat pemandangan, sayangnya kami selalu kalah cepat. Di bagian bawah, ada kamar mandi, bagasi dan 2 pasang tempat duduk yang disertai meja seperti di kereta bagian restorasi. Wifi (meskipun saat itu tidak bisa terhubung) dan stop kontak untuk charging pun ada. Makanya kami heran, dengan harga bus yang rendah tersebut bagaimana dengan biaya operasional armada bus-bus ini ya. (Rata-rata harga bus di sini murah).

Tahu tidak, ternyata daerah Wroclaw ini sebagiannya, dahulu adalah milik Jerman yang akhirnya diberikan kepada Polandia. Jadi tidak heran saat tiba di Terminal Wroclaw terpampang tulisan dalam bahasa Jerman di atas terowongan. Hal yang saya agak keliru ternyata adalah cuaca. Saya mengira cuaca di Wroclaw sedikit lebih dingin daripada di Berlin meskipun sudah memasuki musim semi, tapi ternyata di sini lebih panas. Jadi, hampir sebagian besar baju yang saya bawa tidak terpakai karena tebal.

Teman suami (sebut Theresa) berangkat belakangan karena menunggu kawannya yang datang dari Amerika  untuk liburan juga sehingga sampai di Polandia kami akan dijemput oleh ibunya di cafe kesukaan keluarga mereka, cafe etnik dengan berbagai hal yang alami sambil bisa membaca. Setelah setengah jam menunggu si ibu datang.

Jangan lewatkan kunjungan di Kathedral
Setelah Theresa dan temannya datang, kami mulai berjalan menuju kawasan religius,tepatnya kawasan ini merupakan suatu pulau yang ibaratnya merupakan "wilayah kekuasaan" Kathedral dengan perumahan di sekelilingnya yg ditempati oleh orang-orang yang religius (baca:beragama). Mengunjungi kawasan Kathedral ini wajib hukumnya bagi saya karena hampir sebagian besar objek di dalam wilayah Kathedral ini menyimpan mitos dan legenda yang menarik untuk didengarkan.

Dulu saat peperangan, beberapa bangunan didalamnya sempat hancur meskipun akhirnya direnovasi kembali. Dalam wilayah kathedral ini ada beberapa gereja Orthodoks dan Catholic yang berdiri berdampingan serta rumah tempat tinggal Bishop, taman botanical dan Kathedral sebagai pusatnya.
Di pintu depan Kathedral, kita bisa melihat sejarah pembangunan Kathedral yang dimulai abad ke-10 (tahun 1000). Sayangnya dalam bahasa Polandia (susah). Sayangnya kami tidak bisa masuk ke dalam dan melihat bunker di bawah Kathedral karena sudah jam 21.00. Tapi, syukurnya kami datang di saat yang tepat saat seorang penjaga berjubah menjalankan tugasnya untuk menghidupkan lentera di jalan (seperti masuk ke alam Harry Potter).

Sempat mencicipi keju tradisional Polandia

Jembatan masuk ke wilayah Kathedral dan pagar-pagarnya yang penuh dengan gembok

Salah satu foto yang menggambarkan saat perang dunia

Patung air mancur ini pun mempunyai legenda tentang "Malaikat Botak"

Rumah Bishop

Petugas yang menghidupkan lampu tepat saat matahari tenggelam

Kathedral dan kisahnya
 
Ini pun punya cerita

 
Kepala St. John yang dipenggal
"Malin Kundang"nya Polandia
Ada banyak legenda di kawasan ini. Yang paling menarik dan berbekas di ingatan adalah legenda tentang kepala dengan mimik muka yang tampak seperti ketakutan (orang berteriak) di dinding selatan Kathedral.

Sunday, June 28, 2015

Saat Si Vacum CleanerRusak

Sudah hampir 7 bulan ini vacum cleaner yang dibeli suami ini tidak dapat difungsikan. Daya hisapnya kurang sehingga tidak bisa menyedot kotoran-kotoran kecil di sela-sela karpet.  Ya, hampir sebagian besar lantai wohnung yang kami tempati di tutupi karpet (kami tinggal di lantai dasar (Erdgeschoss), jadi musim panas pun suhu dalam rumah kami paling panas cuma 22 derajat. Kalau tidak ditutupi karpet, maka kaki selalu kedinginan dan jatuhnya sering sakit. Apalgi si kecil ini, mana betah disuruh pake kaus kaki ataupun sepatu rumahan terus-terusan.

Nah, karpet ini lah yang membuat harus sering menggunakan vacuum cleaner kalau lagi bersih-bersih. Memang sih, vacuum cleaner ini sudah setengah buruk. Sambungan selang ke mesinnya sudah dibalut selotip (hehe) dan sekarang tambah lagi kerusakannya. Beli yang baru?Belum ada budget. Pucuk di cinta ulam pun tiba, mengharap ada tetangga yang buang vacum cleaner, eh kesampaian. Tapi...ternyata bagian penyedotnya tidak ada. Terpaksa harus coba cari di flohmarkt.
 
Sampai sekarang, kami belum saja sempat ke flohmarkt, padahal flohmarkt terdekat cuma di Leopoldplatz, 4 stasiun dari rumah. Alhasil, saya gunakan saja

1. Sapu
Sapu rumahan sini tidak ada yang bentuknya seperti di indonesia. Tapi cukup kaku dan bisa membersihkan kotoran di karpet. Masalahnya, capek euy kalau harus menunduk terus dan kadang-kadang tidak terlalu bersih.
Ini sapu yang ada di Jerman, beda bentuk dengan di Indonesia

2. Roll Turki
Saya tidak tahu nama apa yang cocok tapi Ini alat favorit saya. Alat kecil ini membantu membersihkan. Cara kerjanya hampir mirip vacum cleaner,  bagian sikatnya seperti bagian penghisap pada vacum cleaner. Memang sih tetap harus menunduk tapi g separah si sapu dan harus hati-hati kadang kalau salah arah atau kebanyakan kotorannya bisa keluar lagi. Tapi percaya deh, hal itu bisa diantisipasi. Saya kasiih contoh deh seberapa efektifnya dibanding sapu biasa:

Tumpahan susu bubuk atau tepung di atas karpet. Agak susah kan kalau tanpa vacum cleaner; kalau saya pake sapu, biasanya masih ada sisa sedikit-sedikit dan karpet agak jadi berwarna putih. Kalau mau benar-benar bersih harus agak ngotot menekan si sapu. Tapi kalau pake alat ini, saya tidak pakai ngotot dan bersihnya lebih daripada pakai sapu biasa.

Roll yang kecil ini diberi oleh saudari Turki, saat saya bertanya di mana bisa membeli, eh malah di kasih.
Roll yang besar ini di beli suami saat kami ke maroko. Ternyata di lihat-lihat, merknya Turki. Sepertinya kalau urusan bersih-bersih, orang Turki ini nomor satu deh.

Friday, June 26, 2015

Menghabiskan Liburan di Hamburg ala Kami #Edisi Liburan di Hamburg part III

OK setelah cerita mbuletnya persiapan dan merawat si kecil yang sakit saat liburan pertama bareng, sekarang saya akan menceritakan tentang liburan kami di Hamburg.

Daftar tempat yang ingin saya kunjungi sebenarnya sudah ada dalam otak (info lengkap klik disini), tapi agak kacau dengan sakitnya si kecil. Namun tak apalah yang penting tidak ada apa-apa dengan si kecil. Tidak bisa semua kami kunjungi karena harus mempertimbangkan beberapa hal, antara lain mudahnya kalau membawa kereta dorong, minat si kecil, dan biaya. hoho.

Hari 1, Jumat
Hari ini rencananya kami menuju ke Hamburger Hafen (Pelabuhan Hamburg) dan Hamburg Botanical Garden (taman di Hamburg yang luas dan panjang) dan Planetarium (kalau yang ini yang demen emaknya). Ah, jadi ingat, kalau kalian dengar kata Hamburger, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan makanan, tapi ini adalah sebutan untuk warga Hamburg sama halnya dengan Berliner, sebutan untuk warga Berlin.
Di Pelabuhan Hamburg ini kita bisa sekedar kongkow sambil menikmati makanan, musik dari pengamen dan turis-turis yang berkeliaran ataupun berpesiar dengan ferry kecil bolak-balik menikmati pemandangan. Dengan kapal ferry ini kita bisa berhenti di beberapa tempat antara lain : Fischmarkt, Treppen Viertel, dan 3 tempat lain yang saya tidak tahu menuju ke mana. Kalian juga bisa mengunjungi museum kapal yang berada sepanjang perjalanan dan yang paling terkenal adalah Rickmer rickmers. Foto bisa dilihat disini. Tempat kita menunggu ferry ini di sebut Landungbruecke.
Landungsbruecken dengan panjang 700 m

Kelihatan Fischmarkt

Rickmer rickmers

Kami memang tidak jadi berkunjung ke Hamburg Botanical Garten tapi setidaknya kami bisa melihat seberapa luas dan panjangnya taman ini. Seperti biasanya taman terbuka di kota, penduduknya menggunakan untuk jalan-jalan, berolahraga, dsb.

Hari ke-2, Sabtu
Besok adalah hari libur yang berarti hampir sebagian besar tempat tutup. Untungnya si kecil sudah benar-benar membaik jadi kami bisa jalan sepuasnya. Sebenarnya kami sudah harus bangun dan berangkat pagi-pagi, kalau tidak, kami tidak akan kebagian. Sebagai anak pantai, "pagi" yang ada dalam pikiran saya adalah jam 02.00-05.00 karena kalau lebih dari itu, dulu saya tidak akan mendapat ikan yang segar-segar. Ternyata pagi itu di sini maksudnya adalah jam 07.00.wkwkwk. Kalau kata ibu saya, dicocok ayam tuh kalau bangun jam segitu. Yup kami berangkat jam 09.00. Setelah memarkirkan mobil di parkiran belakang daerah Treppen Viertel, kami berjalan kaki menuju Fischmarkt.
Mulai dari tempat parkir belakang Treppen Viertel- Fischmarkt
Suasana pasarnya bersih dan ramai. Ada pedagang yang berjualan di luar dan di dalam gedung. Pedagangnya berjualan tidak hanya ikan, tapi binatang seperti ayam, kelinci pung ikut di jual. Selain itu, ada penjual baju, peralatan rumah tangga, sayur dan buah yang didominasi oleh warga keturunan Turki dan penjual bunga. Yang beda dari Berlin, pedagang sayur dan buah ini juga menjual 1 paket buah dalam keranjang yang bertuliskan Hamburg dan dihargai 10 euro. Bahkan kita bisa melihat cara mereka membaginya. Mereka pun berjualan jus jeruk yang langsung di peras di tempat dan di jual dengan harga 2 euro. Hmm segar.

Saturday, May 16, 2015

Ebru...Melukis di Atas Air

Mempelajari kebudayaan suatu bangsa memang tidak ada habisnya. Sampai saat ini, meskipun tinggal di Jerman tapi keluarga kami lebih sering terpapar dengan teman-teman Turki.Kali ini, kami berkesempatan melihat 2 pertunjukan kesenian, seni musik Turki "Mey" dan seni lukis di atas air "Ebru". Jujur saja, saya datang ke acara ini karena lebih tertarik dengan Ebru. Sebelumnya saya tidak bisa membayangkan bagaimana cara menyapukan kuas cat ke atas air yang jelas-jelas berkonsistensi cair. "Masih ingat peribahasa yang mengatakan "Belajar saat dewasa, bagaikan mengukir di atas air", artinya tidak ada yang tertinggal karena semua akan terhapus. Tapi bagaimana dengan melukis di atas air, saya rasa sama mustahilnya.  Tapi pikiran itu hilang setelah akhirnya melihat kesenian ini secara langsung.

Saturday, May 9, 2015

Toko Asia di Berlin


Kangen tahu tempe, kangen rambutan, pepaya, durian dan nangka, kangen sambal ABC, kangen bumbu pecel, dll.
1. Di mana saya harus membeli bahan makanan khas Indonesia di Berlin, Jerman?
2. Adakah toko atau supermarkt yang menjual bahan makanan dari Indonesia di Berlin, Jerman?

Berada di ibukota Jerman ini membuat saya tidak terlalu pusing bila ingin mencari bahan-bahan makanan untuk masakan Indonesia atau sekedar cemilan. Meskipun dipatok dengan harga yang lebih tinggi daripada harga di tanah air, setidaknya bisa mengobati rasa kangen. Di mana saja tempatnya: