Tuesday, July 21, 2015

Liburan....edisi Ke Madrid part 1


27 May 2015

Yeay...pak suami membeli tiket promo perjalanan 10 hari dari Berlin-Madrid-Fez-Pisa-Dusseldorf-Berlin menggunakan maskapai Ryan Air, jadi lumayan bisa menghilangkan stres sejenak. Tentang Ryan Air: ini termasuk Air Asianya Eropa, sering menawarkan paket murah jalan-jalan tapi kompensasinya jangan melebihi peraturan yang ada, misal membawa bagasi lebih dari seharusnya, meminta prioritas penerbangan (priority boarding), snack; minuman; dan suvenir harus beli. Tapi...tetap ada kemudahan bagi anak-anak :D

Bandara Schönefeld, Kecil Sih tapi Luas
Perjalanan dimulai: berangkat dari rumah jam 17.00 menuju ke Flughafen (bandara) Schönefeld karena 2 jam sebelumnya harus sudah check in. Bandara ini terletak di area C jadi jangan lupa untuk beli tiket daerah C (cuma pengalamanku biasanya pak sopir tidak terlalu memperhatikan kalau punya tiket bulanan untuk wilayah AB (entah bapaknya tidak memperhatikan penumpangnya turun dimana atau g mau pusing karena dekat). Awalnya kami memilih naik bus 171 (bisa juga X71) karena dalam pikiran kami bus turun persis di depan pintu tidak seperti S-Bahn. Ternyata kami keliru, bus 171 malah turun di seberangnya sama saja dengan S-Bahn. Lumayanlah 10 menitan jalan. Bandara ini hanya punya terminal A-E yang jaraknya tidak terlalu jauh. Bandara Tegel yang saya pikir tidak terlalu luas, ternyata masih agak lebih besar daripada Schönefeld.

Untuk penumpang yang berpaspor bukan Eropa jangan lupa selalu datang ke counter tidak hanya untuk check in tapi juga check paspor dan cap check paspor itu sudah harus tertera di tiket yang sudah di print. Si petugas meminta kami menunggu 30 menitan untuk memberi label "free baggage" pada kinderwagen si kecil (kenapa harus menunggu?entahlah). Jadilah kami menunggu di pojok sambil memakan snack yang kami siapkan (seperti biasa harga barang di bandara selalu lebih mahal).
Tertib antri dan fasilitas Bandara Schönefeld

Setelah mendapat label, kami menuju ke X-Ray setelah pengecekan sebentar oleh petugas. Di X-Ray ini semua barang termasuk kinderwagen pun harus masuk ke dalam baki yang sudah disiapkan dan masuklah kami ke Hall yang luas yang bisa melihat pesawat, wah si kecil mah senang kalau begini. Sempat makan malam di hall tersebut, sampai akhirnya muncul panggilan untuk masuk ke dalam Gate. Alamak, ternyata gatenya ada di Terminal A dan untuk menyeberang harus naik dan turun tangga, tidak ada lift (untung sudah beli kinderwagen yang ringan). Sampai di gate, petugas memberi label"free baggage" kembali untuk koper-koper penumpang. Saat tiba giliran kami, dia bilang "ah, you have a child" dan koper kami tidak perlu dilabel :), kemudian saat menunjukkan boarding pass, petugas lain meminta kami ke barisan "priority boarding". Wow, sesuatu banget. Setelah kami pelajari ternyata untuk penumpang yang membawa anak kecil otomatis dikategorikan "priority boarding" meski tidak membayar lebih untuk fasilitas ini. Selain itu, orang tua dan orang dengan kursi roda juga termasuk "priority boarding".
Priority Boarding

Pukul jam 20.30, penumpang sudah mulai diijinkan masuk pesawat dan kinderwagen diserahkan pada petugas untuk masuk bagasi. Pukul 20.50, pesawat jalan. On time.

Yang menarik untuk tinggal landas, pesawat harus berjalan jauh bahkan saya melihat ada bandara baru "Bradenburger Flughafen" yang belum difungsionalkan. Apakah ini akan menggantikan Schönefeld? Saya belum tahu. Pak suami bahkan sampai penasaran seberapa jauhnya tempat tinggal landas dengan bandara dan ingin melihatnya dari udara. Sayang g kesampaian.haha

Welcome to Madrid, Spain
Madrid malam hari

Pengalaman di Bandara Madrid...edisi Madrid part 3

30 May 2015

Pagi jam 11.00 kami sudah harus keluar dari hostel karena kami harus check in 2 jam sebelumnya. Setelah check out dan say goodbye ke Ruben dan istrinya, kami menuju Metro Sol menuju Aeropuertorico T1 karena pesawat akan berangkat dari sana.
Sampai di bandara, feeling g enak sudah terasa melihat panjangnya antrian di counter Ryan Air dengan antrian yang g jelas. Sebenarnya sempat ada feeling underestimate gitu tentang tabiat orang Arab yang menurut saya hampir sama dengan di tanah air yaitu, GA TERTIB NGANTRI (maaf...maaf).
Kelihatan tertib, padahal aslinya main serobot

G seperti pelayanan Ryan Air di Berlin, menurut saya pelayanan di Madrid ini kurang memuaskan. Dengan antrian sebanyak itu, bahkan ada yang "last minute" dan menjadi prioritas, mereka hanya punya 3 staff dan setelah 1 jam antri saat giliran kurang 5 orang lagi, staf yang ada di lurusan kami pergi, entah sepertinya disuruh kemana oleh seniornya. Akhirnya giliran kami menjadi 2 kali lipatnya karena berbagi dengan barisan di sebelah kami. Awalnya sih, antrian ini mulai berlaku "siapa cepat dia dapat" antara barisan kami dan sebelah kami, tapi untungnya ibu Spanyol di belakang kami protes dan sempat ada ketegangan kecil dengan si staf. Dan akhirnya tiba giliran kami. Taraaa.....ternyata karena tidak ada bagasi yang harus masuk, sebenarnya kami bisa saja langsung ke counter "check in passport" yang antriannya g terlalu panjang. Hiks, jadi pengalaman deh dan label untuk kinderwagen diberikan saat berada di "Gate".

Setelah itu kami menuju ke X-ray untuk pemeriksaan barang-barang. Untungnya, si kecil membuat kami menjadi prioritas sehingga tidak harus mengikuti liuk-liuknya antrian, langsung menerobos. Di depan kami ada passngan arab dengan 3 orang anak,salah satunya masih bayi yang perkiraan saya masih belum genap 40 hari, yang nantinya sama-sama menuju ke Fez. Pemeriksaan cairan disini canggih. Sempat khawatir karena kami membawa Aqua 1.5 Liter dan botol susu yang belum habis dan lebih dari 100ml, takut disuruh membuang, padahal kami lagi butuh air. Ternyata botol tersebut hanya dimasukkan ke dalam dan hanya diperiksa. Ok, jadi pelajaran lagi, untuk minuman, g masalah jumlahnya lebih dari 100ml.

Saat itu jam menunjukkan sudah hampir jam 2 yang berarti 45 menit lagi kami terbang, tapi kenyataannya pesawat "delay" untuk waktu yang tidak jelas. Gate 29 yang seharusnya tertera tulisan "Fez", masih tertulis Istanbul dengan barisan antrian yang panjang juga. Ini baru pertama kalinya kami mengalami "pesawat delay" di negara Eropa. Hampir menunggu 2 jam, kami mendapat kejelasan untuk terbang tapi dari Gate 23, widiiihh, rombongan penumpang yang hampir sebagian besar orang Arab segera melesat (sekali lagi "mirip dengan di Indonesia" :D). Sampai di Gate 23, kami harus antri dengan "cukup" harus "sikut-sikutan" (lebay.com) karena penumpang berlomba-lomba ingin didahulukan. Sampai di sini, sistem di bandara Madrid benar-benar tidak bersahabat dengan anak-anak.

Di Gate 23 ini, kami pun harus menunggu lama dan dibuat bingung oleh petugas karena ada beberapa orang yang sepertinya menjadi Priorits Boarding. Kurang tahu bagaimana sistem pembagiannya. Kalau di Berlin, balita, orangtua, dan orang yang pakai kursi dorong menjadi prioritas plus yang mau menambah membayar, kata suami sih cukup nambah 3 euro per orang, tapi pihak Ryan Air Madrid tidak menawarkan (atau kami tidk bertanya), tapi di di sini tidak ada prioritas untuk anak-anak. Yang membuat kami ilfil lagi, si petugas g terlalu "care" dengan berat muatan. Pasangan arab yang membawa 3 anak tadi bawaannya seabrek, bahkan ketika disuruh memasukkan ke dalam alat pengukur berat itu si bapak kelihatan banget maksa tapi si petugas g memperhatikan. Cukup lama kami menunggu, sampai akhirnya muncul pengumuman lagi:  kami harus kembali ke Gate 29. Alamak...

Di sini pun kami hatus menunggu 1/2 jam sampai akhirnya muncul kepastian pesawat berangkat jam 17.30. Tidak ada kompensasi. Lagi-lagi penumpang berdesak-desakan duluan. Akhirnya ada penumpang yang protes kepada petugas "Kalau Anda punya rasa kemanusiaan, harusnya kalian mendahulukan anak-anak, bukannya orang-orang seperti tadi". Good Job bapak!!! Tapi, tetap saja yang sudah memgantri minta didahulukan dan kembali pada kesadaran penumpang untuk mendahulukan anak-anak...hadeuh.

Garbarata sudah di depan mata, ternyata masih hatus menunggu lagi 10 menit-an dan check lagi. Total sampai sekarang 6x antri. Akhirnya masuklah kami ke dalam pesawat dan tiba di Fez pukul 20.00 waktu Fez (selisih 1 jam dari Berlin).

Sampai di Bandara Fez, ada pesawat lain yang mendarat. Dari kejauhan sudah terlihat antrian hanya melalui 1 pintu. Pintu pertama ini, petugas memgecek paspor dari mana, bila bukan warga sana, di suruh mengisi kertas kecil yang berisi keterangan diri termasuk akan menginap di mana dan kembali mengantri untuk di cek lengkap. Di sini untungnya si kecil g rewel karena kami biarkan berjalan-jalan. Di antrian samping kami ada pasangan Arab-Jerman yang anaknya nangis dan ternyata ingin BAB. Yup, tidak ada prioritas di sini. Lolos dari control pasport, mengantri lagi untuk masuk dan akhirnya.... Welcome to The Fez





Monday, July 20, 2015

Liburan...Edisi Maroko part 1

 
Medina, Kota Tuanya Fez
Bebas dari segala pemeriksaan kami harus mencari kendaraan menuju Medina, kota lama Fez. Ada 2 pilihan dari bandara ke Medina:naik bus dengan ongkos 4 dirham per kursi sampai di stasiun kereta dan bus (lamanya 40 menitan) atau naik taxi sampai di tempat. Karena awalnya kami tidak tahu di mana harus menunggu bus dan tidak melihat penampakannya, jadilah kami menawar taxi. Berdasarkan standar tarif sih harga taxi 150 dirham (kurs 1 euro=±10 dirham), tapi kami ilfil lagi karena ternyata si bapak taxi membawa penumpang lain, seorang ibu-ibu. Akhirnya kami menawar 120 dan si bapak tetap kekeuh, ya sudah kami tinggal saja dan hahay, si bapak kembali memanggil tanda setuju. Taksi bandara ini tidak sama dengan taksi dalam kota alias Petit Taxi. Pada saat pulang nantinya, kami sempat bertanya ke bapak Petit Taxi bisa ngga bawa kami ke bandara, dia bilang sih sanggup. Kenyataannya, kami di oper ke kawannya yang benar-benar supir bandara. Tapi sebelumnya kami pastikan dulu bahwa tidak ada biaya tambahan diluar kesepakatan awal.
Awal mendarat
Pintu luar bandara

Tarif taxi
Pemandangan sepanjang jalan hampir sebagian besar diselimuti warna kuning alias pasir dan debu dan sepanjang perjalanan banyak kebun jeruk yang akhirnya baru kami ketahui kalau jeruk ini jadi minuman yang paling banyak dijual. 15 menit kami melewati kawasan yang bisa dibilang sederhana dengan toko-toko dan rumah yang bisa dibilang jelek, 15 menit kemudian kami sepertinya melewati kawasan elit Fez dengan bangunan rumah yang luas, pagar tertutup dan mobil di garasinya. Agak kontras memang. Yang menarik, atap rumahnya datar baik yang elit maupun yang sederhana.
Kebun jeruk sepanjang perjalanan

Kawasan elit di Maroko (lihat atapnya)
Setelah mengantar si ibu, sampailah kami di tempat yang banyak orang di depan sebuah bangunan tinggi. Ternyata itu yang namanya Medina (kota tua)nya Fez. Saat itu sedang ada festival musik, jadi banyak warga lokal keluar menyaksikan. Rame banget. Taxi berhenti di depan sebuah gerbang berwarna biru....Blue Gate (Bab Boujeloud).



Bab Baujeloud

Kami menginap di Dar Fatimah Azzahra (nomor 115) dengan tarif 100 euro untuk 5 hari. Lokasinya tidak jauh dari Hotel Boujloud yang direkomendasi situs perjalanan. Pemiliknya, Fatimah Azzahra cukup ramah dan menyediakan teh mint saat pertama kali datang. Fatimah ini mempunyai 3 anak laki-laki, si Mehdi dan 2 adiknya. Sarana yang ada di penginapan ini wifi dan sarapan pagi. Untuk pertama kalinya saya benar-benar mencicipi roti maryam yang enak, asli dari masyarakat berbahasa arab. Penyajian teh mintnya sendiri di bilang unik. Jangan- coba pegang di teko tanpa alas karena sepertinya teh tersebut dimasak langsung dengan teko di atas kompor. Oiya, yang lebih enak lagi, saya bisa numpang nyuci pakaian dan njemur, bahkan si ibu yang membantu masak di Dar Fatimah Az-zahra ini menawarkan pengering mesin cuci. Jadi bisa saya rekomendasikan penginapan ini. Cuma mungkin jalan masuknya agak njelimet tapi nggampang untuk diingat.
Sarapan pagi kami dari hari ke hari

Foto yang memperlihatkan cara menuang teh ala Maroko
Oiya, jika ingin berwisata murah dari awal mending peta tentang Morocco sudah diprint termasuk tempat penginapan. Hampir kebanyakan orang-orang yang bersedia mengantarkan dan memberi petunjuk jalan (pun hanya menunjukkan tempat penginapan) meminta upah atas "jasa" mereka, termasuk saat menunjukkan penginapan yang sudah kami booking. Saat kami memberi 5 dirham pada si pemuda, dia menolaknya. Menurutnya hanya untuk anak kecil. Karena tidak punya uang yang lebih kecil lagi, akhirnya kami memberi 20 dirham. Sejak ini, kami sering menolak kalau ada yang bersedia mengantarkan kecuali dia bilang gratis. Meskipun gratis, ternyata tetap ada embel2nya mis. Dia punya toko dan meminta kita membeli barangnya.

Identik 100 dirham
Karena sudah hampir malam, kami bermaksud untuk meminta makan malam dan bertanya harganya. Si Mehdi langsung bertanya pada ibunya dan tebak berapa harganya? 100 Dirham. What...g jadi deh, mending beli di restoran luar jelas ada harganya dan g sampai 100 untuk 2 orang. Kayaknya orang-orang lokal ini melihat para turis sebagai tambang emas deh, 3 cewek yang juga menginap di sini tertarik memakai jasa heena tetangga si Fatimah. Tebak harganya berapa? 100 dirham per orang. Jadi, kami sering buat bercandaan, kalau ada apa-apa, 100 dirham. Wkwkwk
Henna...bagus ya

"Sedekah"
Kami ini lagi backpackere-an jadi benar-benar mencari yang murah. Daripada menyewa jasa tour guide dengan harga minimal 150 Dirham, mending kami eksplorasi sendiri berbekal peta. Kalau ada yang menawarkan jasa atau menawarkan restoran pake 2 senjata, kabuuur atau menolak halus. Di sini benar-benar deh, kami sempat pergi ke salah satu masjid, si bapak penjaga masjid yang baik dan ramah menunjukkan tempat wudhu perempuan padaku.  Saat kami akan pulang, seorang bapak yang dari tadi berdoa menyuruh kami untuk berhenti sejenak dan mendoakan kami. Saya yang tidak ada pikiran apa-apa sih senang-senang saja. Eh ternyata di akhir doa, si bapak minta "sedekah" dan bapak penjaga yang baik juga ikut-ikutan. Ealah...

Kalau kalian berbaik hati, ada banyak pengemis yang juga meminta sedekah termasuk mbah-mbah tua. Oiy, kalau mau memotret barang-barang yang dijual ataupun mau memotret orang-orang Morocco sebaiknya dilakukan secara cepat ataupun g ketahuan. Biasanya mereka juga meminta sedekah. Saya yang hanya punya kamera hp, jadi agak kesulitan karena ini hp lama banget loadingnya. Eh pas berhasil memotret si penjual minuman tradisional, dia meminta sedekah karena saya memoto dirinya.

Indah tapi Tidak Terawat
Mengunjungi setiap bangunan Madrasah, museum, dan masjid di Fez ini membuat saya tidak berhenti berdecak, mengagumi keindahan arsitekturnya sekaligus mengelus dada karena banyak yang tidak terawat. Di salah satu madrasah terlihat ada dinding yang kelihatannya habis direnovasi tapi renovasinya menghilangkan ukiran kaligrafi. Khas peninggalan Islam dahulu setiap bangunannya penuh dengan ukiran dan kaligrafi. Indah banget, sayangnya ya itu tadi tidak terawat dan kotor. Ga bisa bayangin berapa lama untuk pembangunan 1 bangunan. Menurut cerita suami, 1 dinding batu dengan ukiran seperti ini bisa memakan waktu 3 bulan. Belum mozaik di lantai dan didinding yang ditempel satu persatu. Saya akan ceritakan detail perjalanan kunjungan ke bangunan ini satu persatu.


 

Lihat ukirannya...sangat detail

Liburan...edisi Maroko part 2

Fez el Jadid

Hari ke 3 di Fez, sebenarnya membuat kami bingung akan kemana karena sebenarnya kalau kalian aktif bangun pagi dan eksplorasi sampai malam, dalam 2 hari saja sudah bisa mencapai seluruh Fez al Medina sehingga bisa dilanjutkan ke kota lain di Maroko yang tidak kalah indahnya.

Banyak lho kesamaan dengan di Indonesia. Berhubung budget pas-pasan dan g mo capek apalagi bawa si kecil, kami agak nyantai saja untuk eksplorasi Fez. Hari ini kami rencana ke Fez el Jadid, kota barunya Fez. Meskipun di bilang baru, umur kota ini pun sudah lama. Berbeda 800 tahunan dengan Fez el Medina.
Berangkat dari penginapan dengan Petit taxi tarif 20.4 (menurut suami seharusnya 10.4, tapi si supir mungkin agak nakal, jadi dari awal berangkat sudah terstel 10 dirham). Sopir taksi nakal --- persamaan 1

Mencari Wisata Warga Lokal
Dari yang jauh dari turis dan biasanya banyak dikunjungi warga lokal adalah sasaran kami. Kami berpikir kemungkinan bisa dapat harga lebih murah. Kami turun di Avenue Hassan II (jalan utama), di antara 2 jalur ada taman besar yang sepertinya dipakai warga lokal untuk cuci mata. Suasananya sama seperti di tanah air, taman kota begini dipakai oleh warga lokal untuk bersantai, muda-mudinya ada yang asyik berduaan. Mallnya menarik orang untuk datang meski harga makanan seperti fast food jauh lebih mahal daripada kedai dan restoran lokal -- persamaan ke-2

Tapi, justru di tempat ini kami bisa makan makanan Maroko sepuasnya. Soal harga ternyata tidak terlalu berbeda jauh dari di Medina, hanya sekitar 10-20 dirham. Selama makan ini, kami selalu dilihat oleh 1 keluarga pengemis yang tampak kurus. Ya, banyak juga pengemis di Maroko ---persamaan ke-3
Tapi, ada juga yang lebih berusaha daripada mengemis biasa, yaitu menjual tissue.

Secara personal, orang-orang Maroko hampir sama dengan di Indonesia, ramah ---persamaan ke-4 dan mereka suka dengan anak kecil. Hati-hati bagi ibu-ibu higienis yang punya balita lucu. Mereka kadang tidak segan, pegang-pegang dan mencium si anak lho.
Dari Fez el Medina kami turun di Ave Hassan II dengan taman di tengah jalan

Tentara berjaga-jaga dan Kebiasaan Bapak-bapak di Maroko
Nah ini yang agak menakutkan, di Fez el Jadid ini sering saya lihat 3 orang tentara berjaga-jaga membawa senapan. Mungkin sebenarnya polisi ya, tapi seragam ala tentara Indonesia dan senapannya itu lho yang membuat merinding, takut salah sasaran (lebay.com).
Yang khas lagi adalah kebiasaan bapak-bapak di Maroko yang sering kumpul dan duduk santai di kafe-kafe sambil mengobrol dan minum kopi khas Maroko, kopi disajikan dalam wadah kecil dan disajikan setengahnya karena kental dan rasanya kuat. Bagi suami yang penggemar kopi, rasanya mantap.

Deteksi Dini Buta Warna pada Balita

Hari ini saya lagi bertekad mengajarkan kembali si kecil "tentang warna". Dulu sih sudah pernah mencoba memperkenalkan saat usianya 15 bulan, tapi sepertinya saat itu hanya membeo, belum benar-benar paham akan perbedaan warna. Ternyata warna yang dia bisa cuma pink dan jingga, selebihnya terbalik-balik. Terutama warna hijau, selalu yang ditunjuk warna biru. Ups, pikiran si emaknya ini sudah macam-macam, "jangan-jangan si kecil buta warna?"


Buta warna, penyakit yang satu ini memang tidak membahayakan tapi bisa menggelisahkan orang tua si anak yang menderita. Masih teringat jelas saat dulu mendapati beberapa anak yang baru tahu kalau dirinya buta warna saat sudah remaja. Responnya, hampir semua menangis karena cita-cita yang mereka impikan melampirkan keterangan "tidak boleh buta warna" , yang berarti kandas dong. Bahkan ada yang karena tidak percaya, datang lagi keesokan harinya dengan orangtuanya. Saya sih sudah hampir takut-takut orangtuanya bakal marah seperti yang pernah saya alami sebelumnya, dimarahin orangtua anak buta warna menuduh tesnya salah. Mereka tidak percaya, bagaimana bisa si anak buta warna padahal dirinya dan istrinya tidak.


Pemeriksaan buta warna ini cukup mudah dan meriah. Salah satunya menggunakan buku ishihara, si pasien menyebutkan secara cepat angka yang tertera pada plate (lembar) ataupun mengurutkan jalan keluar dari satu titik ke titik lain (seperti ular). Bila dia salah menyebutkan atau tidak tahu angka berapa yang tertera, berarti dia buta warna. Dengan catatan: si pasien tidak buta aksara ataupun disleksia.
Salah dua, tiga dan seterusnya seperti di bawah.
http://www.colorblindnessfacts.com/wp-content/uploads/2013/02/g-580x350.jpg
Plate di buku ishihara (http://www.colorblindnessfacts.com/wp-content/uploads/2013/02/g-580x350.jp)
Nah, kalau yang diperiksa adalah balita, bagaimana caranya? 
Tiap kali tahun ajaran baru, pasti saya kebagian pemeriksaan kesehatan para pelajar. Untuk pelajar yang masuk SD, SMP, dan SMA sih gampang-gampang saja. Nah begitu kebagian pelajar yang mau masuk TK ini, gampang-gampang susah berhubung yang ada di klinik adalah plate ishihara yang berisi angka. Beruntung kalau dapat anak yang sudah diajari warna ataupun angka oleh orangtuanya jadi meski memakan waktu lebih lama, hasilnya bisa jelas si anak buta warna atau tidak. Itu pun belum lagi terkendala si anak "malu-malu kucing". Kalau sudah agak lama dan si anak belum-belum bisa, akhirnya saya tulis saja "tidak dapat dievaluasi". Sayang sebenarnya, mengapa? Mengetahui buta warna sejak dini sangat diperlukan orang tua sehingga bisa mempersiapkan mental anak bahwa dirinya sedikit berbeda dengan yang lain dan juga mempersiapkan pandangan karir ke depannya sehingga tidak mengecewakan si anak kalau yang menghambat bukan dari intelegensianya. Buta warna yang di alami pun bisa menyebabkan stigma bahwa si anak "bodoh dan tidak teliti" serta menghambat proses belajar seandainya orang tua tidak mengetahuinya sejak dini.

Sebagai contoh:
1. Budi sedang membaca buku pelajaran. Pada buku pelajarannya tertera perintah untuk menggambar garis menuju bola berwarna merah. Sementara ada beberapa pilihan warna bola, misal coklat yang hampir mirip dengan warna merah. Alhasil, Budi mencoba menebak-nebak. Saat seperti ini, biasanya si guru mengingatkan untuk lebih teliti lagi dan tidak asal. Padahal, Budi berusaha dengan benar-benar
2. Seorang guru menulis di papan tulis berwarna hijau menggunakan kapur berwarna kuning pada saat siang hari yang mengakibatkan kontrasnya warna agak hilang. Alhasil, Budi melihat catatan temannya.
3.  Ani, murid pintar diminta gurunya untuk mengambil buku berwarna biru kehijauan di atas meja gurunya. Saat akan mengambil, dia agak kesulitan mendapati buku tersebut di antara tumpukan buku lainnya 
4. Saat kita mengajari si anak warna. Anak yang buta warna pasti kebingungan saat orangtua ataupun gurunya menjelaskan warna yang berbeda padahal dalam pandangannya, beberapa warna itu sama sehingga mengakibatkan si orangtua ataupun guru menganggap anak ini lambat menerima. Kasihan kan...

Saturday, July 11, 2015

Jungkir Balik Belajar Bahasa Jerman

 Image result for deutsch lernen
Ini adalah curhatan saya yang saat ini lagi bingung....

Mungkin saya agak lebay nih ngasih judul, tapi inilah yang terjadi. Kalau teman-teman yang lain merasa belajar bahasa Jerman itu mudah, itulah yang terjadi pada saya pada saat awal belajar. Akan tetapi begitu mempelajarinya lebih lanjut, semua tampak berputar-putar di kepala. Baiklah saya coba cari telusuri permasalahannya sehingga saya agak muntah saat belajar:

1. Awalnya terasa mudah
Ya iyalah, secara A1 itu adalah dasar yang harusnya sudah saya pelajari sebelumnya di Indonesia, sedangkan saya terlalu malas utuk belajar saat itu sehingga belajar dari awal saat sudah di Jerman dan hasilnya memang dapat nilai memuaskan saat ujian. --> karena memang mudah

2. Jarang aplikasi dan tidak pernah membiasakan diri berbicara dan mendengar membuat lambat
Image result for deutsch lernen
Sudah hampir 10 bulan tinggal di Jerman tapi jarang ngobrol dengan native speakernya. Nah ini yang namanya bodoh. Sudah tinggal di Jerman tapi tidak menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Tidak punya televisi dan radio (alasan saja) padahal bisa menggunakan laptop dan harusnya eman sudah membayar 18 euro per bulan untuk itu, jarang bergaul dengan native alias sering bersama teman Turki yang jarang berbahasa Jerman, jadi untuk berbicara menggunakan bahasa jerman "asal mengerti" atau bahasa isyarat, dan seringnya ketemu teman dari tanah air, jadi g maju-maju. Saya jadi ingat beberapa teman sesama kursus yang berkembang lebih cepat speakingnya (meski grammarnya salah) karena mereka lebih banyak aplikasi dengan partnernya yang orang Jerman ataupun berhubungan dengan orang Jerman karena pekerjaan.
Syukurlah saat ini saya sudah punya teman "Deutsche" asli yang mulai dekat dan punya banyak teman Turki yang lancar berbahasa Jerman karena lahir di sini.
Mulai banyak nonton film berbahasa Jerman meski harus rebutan laptop dan I-pad dengan si kecil :D

Monday, July 6, 2015

Liburan ke Wroclaw, Polandia

 
Jumat, 22 Mei 2015

Liburan kali ini kami mengunjungi teman S3 suami di Wroclaw, Polandia. Perjalanan dengan menggunakan Polski Bus dengan tiket seharga 8 euro ini tidak terlalu melelahkan. Memang sih perjalanan hanya memakan waktu 5 jam (sama seperti jarak dari tempat kerja saya dulu ke kota), tapi perjalanan ini lintas negara, jadi jangan lupa selalu membawa paspor dan identitas diri sebab bisa saja ada pemeriksaan seperti yang kami alami kemarin. Kami naik dari terminal Berlin. Suasana terminal di Indonesia dan di sini menurut saya sama saja. Cuma terminal di Berlin ini sedikit lebih kecil dan lebih bersih. Bus yang ada pun hampir sebagian besar terdiri dari 2 tingkat. Tempat duduk yang paling menyenangkan adalah yang ada di atas dan paling depan sehingga bisa melihat pemandangan, sayangnya kami selalu kalah cepat. Di bagian bawah, ada kamar mandi, bagasi dan 2 pasang tempat duduk yang disertai meja seperti di kereta bagian restorasi. Wifi (meskipun saat itu tidak bisa terhubung) dan stop kontak untuk charging pun ada. Makanya kami heran, dengan harga bus yang rendah tersebut bagaimana dengan biaya operasional armada bus-bus ini ya. (Rata-rata harga bus di sini murah).

Tahu tidak, ternyata daerah Wroclaw ini sebagiannya, dahulu adalah milik Jerman yang akhirnya diberikan kepada Polandia. Jadi tidak heran saat tiba di Terminal Wroclaw terpampang tulisan dalam bahasa Jerman di atas terowongan. Hal yang saya agak keliru ternyata adalah cuaca. Saya mengira cuaca di Wroclaw sedikit lebih dingin daripada di Berlin meskipun sudah memasuki musim semi, tapi ternyata di sini lebih panas. Jadi, hampir sebagian besar baju yang saya bawa tidak terpakai karena tebal.

Teman suami (sebut Theresa) berangkat belakangan karena menunggu kawannya yang datang dari Amerika  untuk liburan juga sehingga sampai di Polandia kami akan dijemput oleh ibunya di cafe kesukaan keluarga mereka, cafe etnik dengan berbagai hal yang alami sambil bisa membaca. Setelah setengah jam menunggu si ibu datang.

Jangan lewatkan kunjungan di Kathedral
Setelah Theresa dan temannya datang, kami mulai berjalan menuju kawasan religius,tepatnya kawasan ini merupakan suatu pulau yang ibaratnya merupakan "wilayah kekuasaan" Kathedral dengan perumahan di sekelilingnya yg ditempati oleh orang-orang yang religius (baca:beragama). Mengunjungi kawasan Kathedral ini wajib hukumnya bagi saya karena hampir sebagian besar objek di dalam wilayah Kathedral ini menyimpan mitos dan legenda yang menarik untuk didengarkan.

Dulu saat peperangan, beberapa bangunan didalamnya sempat hancur meskipun akhirnya direnovasi kembali. Dalam wilayah kathedral ini ada beberapa gereja Orthodoks dan Catholic yang berdiri berdampingan serta rumah tempat tinggal Bishop, taman botanical dan Kathedral sebagai pusatnya.
Di pintu depan Kathedral, kita bisa melihat sejarah pembangunan Kathedral yang dimulai abad ke-10 (tahun 1000). Sayangnya dalam bahasa Polandia (susah). Sayangnya kami tidak bisa masuk ke dalam dan melihat bunker di bawah Kathedral karena sudah jam 21.00. Tapi, syukurnya kami datang di saat yang tepat saat seorang penjaga berjubah menjalankan tugasnya untuk menghidupkan lentera di jalan (seperti masuk ke alam Harry Potter).

Sempat mencicipi keju tradisional Polandia

Jembatan masuk ke wilayah Kathedral dan pagar-pagarnya yang penuh dengan gembok

Salah satu foto yang menggambarkan saat perang dunia

Patung air mancur ini pun mempunyai legenda tentang "Malaikat Botak"

Rumah Bishop

Petugas yang menghidupkan lampu tepat saat matahari tenggelam

Kathedral dan kisahnya
 
Ini pun punya cerita

 
Kepala St. John yang dipenggal
"Malin Kundang"nya Polandia
Ada banyak legenda di kawasan ini. Yang paling menarik dan berbekas di ingatan adalah legenda tentang kepala dengan mimik muka yang tampak seperti ketakutan (orang berteriak) di dinding selatan Kathedral.