Monday, July 20, 2015

Liburan...Edisi Maroko part 1

 
Medina, Kota Tuanya Fez
Bebas dari segala pemeriksaan kami harus mencari kendaraan menuju Medina, kota lama Fez. Ada 2 pilihan dari bandara ke Medina:naik bus dengan ongkos 4 dirham per kursi sampai di stasiun kereta dan bus (lamanya 40 menitan) atau naik taxi sampai di tempat. Karena awalnya kami tidak tahu di mana harus menunggu bus dan tidak melihat penampakannya, jadilah kami menawar taxi. Berdasarkan standar tarif sih harga taxi 150 dirham (kurs 1 euro=±10 dirham), tapi kami ilfil lagi karena ternyata si bapak taxi membawa penumpang lain, seorang ibu-ibu. Akhirnya kami menawar 120 dan si bapak tetap kekeuh, ya sudah kami tinggal saja dan hahay, si bapak kembali memanggil tanda setuju. Taksi bandara ini tidak sama dengan taksi dalam kota alias Petit Taxi. Pada saat pulang nantinya, kami sempat bertanya ke bapak Petit Taxi bisa ngga bawa kami ke bandara, dia bilang sih sanggup. Kenyataannya, kami di oper ke kawannya yang benar-benar supir bandara. Tapi sebelumnya kami pastikan dulu bahwa tidak ada biaya tambahan diluar kesepakatan awal.
Awal mendarat
Pintu luar bandara

Tarif taxi
Pemandangan sepanjang jalan hampir sebagian besar diselimuti warna kuning alias pasir dan debu dan sepanjang perjalanan banyak kebun jeruk yang akhirnya baru kami ketahui kalau jeruk ini jadi minuman yang paling banyak dijual. 15 menit kami melewati kawasan yang bisa dibilang sederhana dengan toko-toko dan rumah yang bisa dibilang jelek, 15 menit kemudian kami sepertinya melewati kawasan elit Fez dengan bangunan rumah yang luas, pagar tertutup dan mobil di garasinya. Agak kontras memang. Yang menarik, atap rumahnya datar baik yang elit maupun yang sederhana.
Kebun jeruk sepanjang perjalanan

Kawasan elit di Maroko (lihat atapnya)
Setelah mengantar si ibu, sampailah kami di tempat yang banyak orang di depan sebuah bangunan tinggi. Ternyata itu yang namanya Medina (kota tua)nya Fez. Saat itu sedang ada festival musik, jadi banyak warga lokal keluar menyaksikan. Rame banget. Taxi berhenti di depan sebuah gerbang berwarna biru....Blue Gate (Bab Boujeloud).



Bab Baujeloud

Kami menginap di Dar Fatimah Azzahra (nomor 115) dengan tarif 100 euro untuk 5 hari. Lokasinya tidak jauh dari Hotel Boujloud yang direkomendasi situs perjalanan. Pemiliknya, Fatimah Azzahra cukup ramah dan menyediakan teh mint saat pertama kali datang. Fatimah ini mempunyai 3 anak laki-laki, si Mehdi dan 2 adiknya. Sarana yang ada di penginapan ini wifi dan sarapan pagi. Untuk pertama kalinya saya benar-benar mencicipi roti maryam yang enak, asli dari masyarakat berbahasa arab. Penyajian teh mintnya sendiri di bilang unik. Jangan- coba pegang di teko tanpa alas karena sepertinya teh tersebut dimasak langsung dengan teko di atas kompor. Oiya, yang lebih enak lagi, saya bisa numpang nyuci pakaian dan njemur, bahkan si ibu yang membantu masak di Dar Fatimah Az-zahra ini menawarkan pengering mesin cuci. Jadi bisa saya rekomendasikan penginapan ini. Cuma mungkin jalan masuknya agak njelimet tapi nggampang untuk diingat.
Sarapan pagi kami dari hari ke hari

Foto yang memperlihatkan cara menuang teh ala Maroko
Oiya, jika ingin berwisata murah dari awal mending peta tentang Morocco sudah diprint termasuk tempat penginapan. Hampir kebanyakan orang-orang yang bersedia mengantarkan dan memberi petunjuk jalan (pun hanya menunjukkan tempat penginapan) meminta upah atas "jasa" mereka, termasuk saat menunjukkan penginapan yang sudah kami booking. Saat kami memberi 5 dirham pada si pemuda, dia menolaknya. Menurutnya hanya untuk anak kecil. Karena tidak punya uang yang lebih kecil lagi, akhirnya kami memberi 20 dirham. Sejak ini, kami sering menolak kalau ada yang bersedia mengantarkan kecuali dia bilang gratis. Meskipun gratis, ternyata tetap ada embel2nya mis. Dia punya toko dan meminta kita membeli barangnya.

Identik 100 dirham
Karena sudah hampir malam, kami bermaksud untuk meminta makan malam dan bertanya harganya. Si Mehdi langsung bertanya pada ibunya dan tebak berapa harganya? 100 Dirham. What...g jadi deh, mending beli di restoran luar jelas ada harganya dan g sampai 100 untuk 2 orang. Kayaknya orang-orang lokal ini melihat para turis sebagai tambang emas deh, 3 cewek yang juga menginap di sini tertarik memakai jasa heena tetangga si Fatimah. Tebak harganya berapa? 100 dirham per orang. Jadi, kami sering buat bercandaan, kalau ada apa-apa, 100 dirham. Wkwkwk
Henna...bagus ya

"Sedekah"
Kami ini lagi backpackere-an jadi benar-benar mencari yang murah. Daripada menyewa jasa tour guide dengan harga minimal 150 Dirham, mending kami eksplorasi sendiri berbekal peta. Kalau ada yang menawarkan jasa atau menawarkan restoran pake 2 senjata, kabuuur atau menolak halus. Di sini benar-benar deh, kami sempat pergi ke salah satu masjid, si bapak penjaga masjid yang baik dan ramah menunjukkan tempat wudhu perempuan padaku.  Saat kami akan pulang, seorang bapak yang dari tadi berdoa menyuruh kami untuk berhenti sejenak dan mendoakan kami. Saya yang tidak ada pikiran apa-apa sih senang-senang saja. Eh ternyata di akhir doa, si bapak minta "sedekah" dan bapak penjaga yang baik juga ikut-ikutan. Ealah...

Kalau kalian berbaik hati, ada banyak pengemis yang juga meminta sedekah termasuk mbah-mbah tua. Oiy, kalau mau memotret barang-barang yang dijual ataupun mau memotret orang-orang Morocco sebaiknya dilakukan secara cepat ataupun g ketahuan. Biasanya mereka juga meminta sedekah. Saya yang hanya punya kamera hp, jadi agak kesulitan karena ini hp lama banget loadingnya. Eh pas berhasil memotret si penjual minuman tradisional, dia meminta sedekah karena saya memoto dirinya.

Indah tapi Tidak Terawat
Mengunjungi setiap bangunan Madrasah, museum, dan masjid di Fez ini membuat saya tidak berhenti berdecak, mengagumi keindahan arsitekturnya sekaligus mengelus dada karena banyak yang tidak terawat. Di salah satu madrasah terlihat ada dinding yang kelihatannya habis direnovasi tapi renovasinya menghilangkan ukiran kaligrafi. Khas peninggalan Islam dahulu setiap bangunannya penuh dengan ukiran dan kaligrafi. Indah banget, sayangnya ya itu tadi tidak terawat dan kotor. Ga bisa bayangin berapa lama untuk pembangunan 1 bangunan. Menurut cerita suami, 1 dinding batu dengan ukiran seperti ini bisa memakan waktu 3 bulan. Belum mozaik di lantai dan didinding yang ditempel satu persatu. Saya akan ceritakan detail perjalanan kunjungan ke bangunan ini satu persatu.


 

Lihat ukirannya...sangat detail

Liburan...edisi Maroko part 2

Fez el Jadid

Hari ke 3 di Fez, sebenarnya membuat kami bingung akan kemana karena sebenarnya kalau kalian aktif bangun pagi dan eksplorasi sampai malam, dalam 2 hari saja sudah bisa mencapai seluruh Fez al Medina sehingga bisa dilanjutkan ke kota lain di Maroko yang tidak kalah indahnya.

Banyak lho kesamaan dengan di Indonesia. Berhubung budget pas-pasan dan g mo capek apalagi bawa si kecil, kami agak nyantai saja untuk eksplorasi Fez. Hari ini kami rencana ke Fez el Jadid, kota barunya Fez. Meskipun di bilang baru, umur kota ini pun sudah lama. Berbeda 800 tahunan dengan Fez el Medina.
Berangkat dari penginapan dengan Petit taxi tarif 20.4 (menurut suami seharusnya 10.4, tapi si supir mungkin agak nakal, jadi dari awal berangkat sudah terstel 10 dirham). Sopir taksi nakal --- persamaan 1

Mencari Wisata Warga Lokal
Dari yang jauh dari turis dan biasanya banyak dikunjungi warga lokal adalah sasaran kami. Kami berpikir kemungkinan bisa dapat harga lebih murah. Kami turun di Avenue Hassan II (jalan utama), di antara 2 jalur ada taman besar yang sepertinya dipakai warga lokal untuk cuci mata. Suasananya sama seperti di tanah air, taman kota begini dipakai oleh warga lokal untuk bersantai, muda-mudinya ada yang asyik berduaan. Mallnya menarik orang untuk datang meski harga makanan seperti fast food jauh lebih mahal daripada kedai dan restoran lokal -- persamaan ke-2

Tapi, justru di tempat ini kami bisa makan makanan Maroko sepuasnya. Soal harga ternyata tidak terlalu berbeda jauh dari di Medina, hanya sekitar 10-20 dirham. Selama makan ini, kami selalu dilihat oleh 1 keluarga pengemis yang tampak kurus. Ya, banyak juga pengemis di Maroko ---persamaan ke-3
Tapi, ada juga yang lebih berusaha daripada mengemis biasa, yaitu menjual tissue.

Secara personal, orang-orang Maroko hampir sama dengan di Indonesia, ramah ---persamaan ke-4 dan mereka suka dengan anak kecil. Hati-hati bagi ibu-ibu higienis yang punya balita lucu. Mereka kadang tidak segan, pegang-pegang dan mencium si anak lho.
Dari Fez el Medina kami turun di Ave Hassan II dengan taman di tengah jalan

Tentara berjaga-jaga dan Kebiasaan Bapak-bapak di Maroko
Nah ini yang agak menakutkan, di Fez el Jadid ini sering saya lihat 3 orang tentara berjaga-jaga membawa senapan. Mungkin sebenarnya polisi ya, tapi seragam ala tentara Indonesia dan senapannya itu lho yang membuat merinding, takut salah sasaran (lebay.com).
Yang khas lagi adalah kebiasaan bapak-bapak di Maroko yang sering kumpul dan duduk santai di kafe-kafe sambil mengobrol dan minum kopi khas Maroko, kopi disajikan dalam wadah kecil dan disajikan setengahnya karena kental dan rasanya kuat. Bagi suami yang penggemar kopi, rasanya mantap.

Deteksi Dini Buta Warna pada Balita

Hari ini saya lagi bertekad mengajarkan kembali si kecil "tentang warna". Dulu sih sudah pernah mencoba memperkenalkan saat usianya 15 bulan, tapi sepertinya saat itu hanya membeo, belum benar-benar paham akan perbedaan warna. Ternyata warna yang dia bisa cuma pink dan jingga, selebihnya terbalik-balik. Terutama warna hijau, selalu yang ditunjuk warna biru. Ups, pikiran si emaknya ini sudah macam-macam, "jangan-jangan si kecil buta warna?"


Buta warna, penyakit yang satu ini memang tidak membahayakan tapi bisa menggelisahkan orang tua si anak yang menderita. Masih teringat jelas saat dulu mendapati beberapa anak yang baru tahu kalau dirinya buta warna saat sudah remaja. Responnya, hampir semua menangis karena cita-cita yang mereka impikan melampirkan keterangan "tidak boleh buta warna" , yang berarti kandas dong. Bahkan ada yang karena tidak percaya, datang lagi keesokan harinya dengan orangtuanya. Saya sih sudah hampir takut-takut orangtuanya bakal marah seperti yang pernah saya alami sebelumnya, dimarahin orangtua anak buta warna menuduh tesnya salah. Mereka tidak percaya, bagaimana bisa si anak buta warna padahal dirinya dan istrinya tidak.


Pemeriksaan buta warna ini cukup mudah dan meriah. Salah satunya menggunakan buku ishihara, si pasien menyebutkan secara cepat angka yang tertera pada plate (lembar) ataupun mengurutkan jalan keluar dari satu titik ke titik lain (seperti ular). Bila dia salah menyebutkan atau tidak tahu angka berapa yang tertera, berarti dia buta warna. Dengan catatan: si pasien tidak buta aksara ataupun disleksia.
Salah dua, tiga dan seterusnya seperti di bawah.
http://www.colorblindnessfacts.com/wp-content/uploads/2013/02/g-580x350.jpg
Plate di buku ishihara (http://www.colorblindnessfacts.com/wp-content/uploads/2013/02/g-580x350.jp)
Nah, kalau yang diperiksa adalah balita, bagaimana caranya? 
Tiap kali tahun ajaran baru, pasti saya kebagian pemeriksaan kesehatan para pelajar. Untuk pelajar yang masuk SD, SMP, dan SMA sih gampang-gampang saja. Nah begitu kebagian pelajar yang mau masuk TK ini, gampang-gampang susah berhubung yang ada di klinik adalah plate ishihara yang berisi angka. Beruntung kalau dapat anak yang sudah diajari warna ataupun angka oleh orangtuanya jadi meski memakan waktu lebih lama, hasilnya bisa jelas si anak buta warna atau tidak. Itu pun belum lagi terkendala si anak "malu-malu kucing". Kalau sudah agak lama dan si anak belum-belum bisa, akhirnya saya tulis saja "tidak dapat dievaluasi". Sayang sebenarnya, mengapa? Mengetahui buta warna sejak dini sangat diperlukan orang tua sehingga bisa mempersiapkan mental anak bahwa dirinya sedikit berbeda dengan yang lain dan juga mempersiapkan pandangan karir ke depannya sehingga tidak mengecewakan si anak kalau yang menghambat bukan dari intelegensianya. Buta warna yang di alami pun bisa menyebabkan stigma bahwa si anak "bodoh dan tidak teliti" serta menghambat proses belajar seandainya orang tua tidak mengetahuinya sejak dini.

Sebagai contoh:
1. Budi sedang membaca buku pelajaran. Pada buku pelajarannya tertera perintah untuk menggambar garis menuju bola berwarna merah. Sementara ada beberapa pilihan warna bola, misal coklat yang hampir mirip dengan warna merah. Alhasil, Budi mencoba menebak-nebak. Saat seperti ini, biasanya si guru mengingatkan untuk lebih teliti lagi dan tidak asal. Padahal, Budi berusaha dengan benar-benar
2. Seorang guru menulis di papan tulis berwarna hijau menggunakan kapur berwarna kuning pada saat siang hari yang mengakibatkan kontrasnya warna agak hilang. Alhasil, Budi melihat catatan temannya.
3.  Ani, murid pintar diminta gurunya untuk mengambil buku berwarna biru kehijauan di atas meja gurunya. Saat akan mengambil, dia agak kesulitan mendapati buku tersebut di antara tumpukan buku lainnya 
4. Saat kita mengajari si anak warna. Anak yang buta warna pasti kebingungan saat orangtua ataupun gurunya menjelaskan warna yang berbeda padahal dalam pandangannya, beberapa warna itu sama sehingga mengakibatkan si orangtua ataupun guru menganggap anak ini lambat menerima. Kasihan kan...

Saturday, July 11, 2015

Jungkir Balik Belajar Bahasa Jerman

 Image result for deutsch lernen
Ini adalah curhatan saya yang saat ini lagi bingung....

Mungkin saya agak lebay nih ngasih judul, tapi inilah yang terjadi. Kalau teman-teman yang lain merasa belajar bahasa Jerman itu mudah, itulah yang terjadi pada saya pada saat awal belajar. Akan tetapi begitu mempelajarinya lebih lanjut, semua tampak berputar-putar di kepala. Baiklah saya coba cari telusuri permasalahannya sehingga saya agak muntah saat belajar:

1. Awalnya terasa mudah
Ya iyalah, secara A1 itu adalah dasar yang harusnya sudah saya pelajari sebelumnya di Indonesia, sedangkan saya terlalu malas utuk belajar saat itu sehingga belajar dari awal saat sudah di Jerman dan hasilnya memang dapat nilai memuaskan saat ujian. --> karena memang mudah

2. Jarang aplikasi dan tidak pernah membiasakan diri berbicara dan mendengar membuat lambat
Image result for deutsch lernen
Sudah hampir 10 bulan tinggal di Jerman tapi jarang ngobrol dengan native speakernya. Nah ini yang namanya bodoh. Sudah tinggal di Jerman tapi tidak menggunakan kesempatan dengan sebaik-baiknya. Tidak punya televisi dan radio (alasan saja) padahal bisa menggunakan laptop dan harusnya eman sudah membayar 18 euro per bulan untuk itu, jarang bergaul dengan native alias sering bersama teman Turki yang jarang berbahasa Jerman, jadi untuk berbicara menggunakan bahasa jerman "asal mengerti" atau bahasa isyarat, dan seringnya ketemu teman dari tanah air, jadi g maju-maju. Saya jadi ingat beberapa teman sesama kursus yang berkembang lebih cepat speakingnya (meski grammarnya salah) karena mereka lebih banyak aplikasi dengan partnernya yang orang Jerman ataupun berhubungan dengan orang Jerman karena pekerjaan.
Syukurlah saat ini saya sudah punya teman "Deutsche" asli yang mulai dekat dan punya banyak teman Turki yang lancar berbahasa Jerman karena lahir di sini.
Mulai banyak nonton film berbahasa Jerman meski harus rebutan laptop dan I-pad dengan si kecil :D

Monday, July 6, 2015

Liburan ke Wroclaw, Polandia

 
Jumat, 22 Mei 2015

Liburan kali ini kami mengunjungi teman S3 suami di Wroclaw, Polandia. Perjalanan dengan menggunakan Polski Bus dengan tiket seharga 8 euro ini tidak terlalu melelahkan. Memang sih perjalanan hanya memakan waktu 5 jam (sama seperti jarak dari tempat kerja saya dulu ke kota), tapi perjalanan ini lintas negara, jadi jangan lupa selalu membawa paspor dan identitas diri sebab bisa saja ada pemeriksaan seperti yang kami alami kemarin. Kami naik dari terminal Berlin. Suasana terminal di Indonesia dan di sini menurut saya sama saja. Cuma terminal di Berlin ini sedikit lebih kecil dan lebih bersih. Bus yang ada pun hampir sebagian besar terdiri dari 2 tingkat. Tempat duduk yang paling menyenangkan adalah yang ada di atas dan paling depan sehingga bisa melihat pemandangan, sayangnya kami selalu kalah cepat. Di bagian bawah, ada kamar mandi, bagasi dan 2 pasang tempat duduk yang disertai meja seperti di kereta bagian restorasi. Wifi (meskipun saat itu tidak bisa terhubung) dan stop kontak untuk charging pun ada. Makanya kami heran, dengan harga bus yang rendah tersebut bagaimana dengan biaya operasional armada bus-bus ini ya. (Rata-rata harga bus di sini murah).

Tahu tidak, ternyata daerah Wroclaw ini sebagiannya, dahulu adalah milik Jerman yang akhirnya diberikan kepada Polandia. Jadi tidak heran saat tiba di Terminal Wroclaw terpampang tulisan dalam bahasa Jerman di atas terowongan. Hal yang saya agak keliru ternyata adalah cuaca. Saya mengira cuaca di Wroclaw sedikit lebih dingin daripada di Berlin meskipun sudah memasuki musim semi, tapi ternyata di sini lebih panas. Jadi, hampir sebagian besar baju yang saya bawa tidak terpakai karena tebal.

Teman suami (sebut Theresa) berangkat belakangan karena menunggu kawannya yang datang dari Amerika  untuk liburan juga sehingga sampai di Polandia kami akan dijemput oleh ibunya di cafe kesukaan keluarga mereka, cafe etnik dengan berbagai hal yang alami sambil bisa membaca. Setelah setengah jam menunggu si ibu datang.

Jangan lewatkan kunjungan di Kathedral
Setelah Theresa dan temannya datang, kami mulai berjalan menuju kawasan religius,tepatnya kawasan ini merupakan suatu pulau yang ibaratnya merupakan "wilayah kekuasaan" Kathedral dengan perumahan di sekelilingnya yg ditempati oleh orang-orang yang religius (baca:beragama). Mengunjungi kawasan Kathedral ini wajib hukumnya bagi saya karena hampir sebagian besar objek di dalam wilayah Kathedral ini menyimpan mitos dan legenda yang menarik untuk didengarkan.

Dulu saat peperangan, beberapa bangunan didalamnya sempat hancur meskipun akhirnya direnovasi kembali. Dalam wilayah kathedral ini ada beberapa gereja Orthodoks dan Catholic yang berdiri berdampingan serta rumah tempat tinggal Bishop, taman botanical dan Kathedral sebagai pusatnya.
Di pintu depan Kathedral, kita bisa melihat sejarah pembangunan Kathedral yang dimulai abad ke-10 (tahun 1000). Sayangnya dalam bahasa Polandia (susah). Sayangnya kami tidak bisa masuk ke dalam dan melihat bunker di bawah Kathedral karena sudah jam 21.00. Tapi, syukurnya kami datang di saat yang tepat saat seorang penjaga berjubah menjalankan tugasnya untuk menghidupkan lentera di jalan (seperti masuk ke alam Harry Potter).

Sempat mencicipi keju tradisional Polandia

Jembatan masuk ke wilayah Kathedral dan pagar-pagarnya yang penuh dengan gembok

Salah satu foto yang menggambarkan saat perang dunia

Patung air mancur ini pun mempunyai legenda tentang "Malaikat Botak"

Rumah Bishop

Petugas yang menghidupkan lampu tepat saat matahari tenggelam

Kathedral dan kisahnya
 
Ini pun punya cerita

 
Kepala St. John yang dipenggal
"Malin Kundang"nya Polandia
Ada banyak legenda di kawasan ini. Yang paling menarik dan berbekas di ingatan adalah legenda tentang kepala dengan mimik muka yang tampak seperti ketakutan (orang berteriak) di dinding selatan Kathedral.

Sunday, June 28, 2015

Saat Si Vacum CleanerRusak

Sudah hampir 7 bulan ini vacum cleaner yang dibeli suami ini tidak dapat difungsikan. Daya hisapnya kurang sehingga tidak bisa menyedot kotoran-kotoran kecil di sela-sela karpet.  Ya, hampir sebagian besar lantai wohnung yang kami tempati di tutupi karpet (kami tinggal di lantai dasar (Erdgeschoss), jadi musim panas pun suhu dalam rumah kami paling panas cuma 22 derajat. Kalau tidak ditutupi karpet, maka kaki selalu kedinginan dan jatuhnya sering sakit. Apalgi si kecil ini, mana betah disuruh pake kaus kaki ataupun sepatu rumahan terus-terusan.

Nah, karpet ini lah yang membuat harus sering menggunakan vacuum cleaner kalau lagi bersih-bersih. Memang sih, vacuum cleaner ini sudah setengah buruk. Sambungan selang ke mesinnya sudah dibalut selotip (hehe) dan sekarang tambah lagi kerusakannya. Beli yang baru?Belum ada budget. Pucuk di cinta ulam pun tiba, mengharap ada tetangga yang buang vacum cleaner, eh kesampaian. Tapi...ternyata bagian penyedotnya tidak ada. Terpaksa harus coba cari di flohmarkt.
 
Sampai sekarang, kami belum saja sempat ke flohmarkt, padahal flohmarkt terdekat cuma di Leopoldplatz, 4 stasiun dari rumah. Alhasil, saya gunakan saja

1. Sapu
Sapu rumahan sini tidak ada yang bentuknya seperti di indonesia. Tapi cukup kaku dan bisa membersihkan kotoran di karpet. Masalahnya, capek euy kalau harus menunduk terus dan kadang-kadang tidak terlalu bersih.
Ini sapu yang ada di Jerman, beda bentuk dengan di Indonesia

2. Roll Turki
Saya tidak tahu nama apa yang cocok tapi Ini alat favorit saya. Alat kecil ini membantu membersihkan. Cara kerjanya hampir mirip vacum cleaner,  bagian sikatnya seperti bagian penghisap pada vacum cleaner. Memang sih tetap harus menunduk tapi g separah si sapu dan harus hati-hati kadang kalau salah arah atau kebanyakan kotorannya bisa keluar lagi. Tapi percaya deh, hal itu bisa diantisipasi. Saya kasiih contoh deh seberapa efektifnya dibanding sapu biasa:

Tumpahan susu bubuk atau tepung di atas karpet. Agak susah kan kalau tanpa vacum cleaner; kalau saya pake sapu, biasanya masih ada sisa sedikit-sedikit dan karpet agak jadi berwarna putih. Kalau mau benar-benar bersih harus agak ngotot menekan si sapu. Tapi kalau pake alat ini, saya tidak pakai ngotot dan bersihnya lebih daripada pakai sapu biasa.

Roll yang kecil ini diberi oleh saudari Turki, saat saya bertanya di mana bisa membeli, eh malah di kasih.
Roll yang besar ini di beli suami saat kami ke maroko. Ternyata di lihat-lihat, merknya Turki. Sepertinya kalau urusan bersih-bersih, orang Turki ini nomor satu deh.

Friday, June 26, 2015

Menghabiskan Liburan di Hamburg ala Kami #Edisi Liburan di Hamburg part III

OK setelah cerita mbuletnya persiapan dan merawat si kecil yang sakit saat liburan pertama bareng, sekarang saya akan menceritakan tentang liburan kami di Hamburg.

Daftar tempat yang ingin saya kunjungi sebenarnya sudah ada dalam otak (info lengkap klik disini), tapi agak kacau dengan sakitnya si kecil. Namun tak apalah yang penting tidak ada apa-apa dengan si kecil. Tidak bisa semua kami kunjungi karena harus mempertimbangkan beberapa hal, antara lain mudahnya kalau membawa kereta dorong, minat si kecil, dan biaya. hoho.

Hari 1, Jumat
Hari ini rencananya kami menuju ke Hamburger Hafen (Pelabuhan Hamburg) dan Hamburg Botanical Garden (taman di Hamburg yang luas dan panjang) dan Planetarium (kalau yang ini yang demen emaknya). Ah, jadi ingat, kalau kalian dengar kata Hamburger, ini sama sekali tidak ada hubungannya dengan makanan, tapi ini adalah sebutan untuk warga Hamburg sama halnya dengan Berliner, sebutan untuk warga Berlin.
Di Pelabuhan Hamburg ini kita bisa sekedar kongkow sambil menikmati makanan, musik dari pengamen dan turis-turis yang berkeliaran ataupun berpesiar dengan ferry kecil bolak-balik menikmati pemandangan. Dengan kapal ferry ini kita bisa berhenti di beberapa tempat antara lain : Fischmarkt, Treppen Viertel, dan 3 tempat lain yang saya tidak tahu menuju ke mana. Kalian juga bisa mengunjungi museum kapal yang berada sepanjang perjalanan dan yang paling terkenal adalah Rickmer rickmers. Foto bisa dilihat disini. Tempat kita menunggu ferry ini di sebut Landungbruecke.
Landungsbruecken dengan panjang 700 m

Kelihatan Fischmarkt

Rickmer rickmers

Kami memang tidak jadi berkunjung ke Hamburg Botanical Garten tapi setidaknya kami bisa melihat seberapa luas dan panjangnya taman ini. Seperti biasanya taman terbuka di kota, penduduknya menggunakan untuk jalan-jalan, berolahraga, dsb.

Hari ke-2, Sabtu
Besok adalah hari libur yang berarti hampir sebagian besar tempat tutup. Untungnya si kecil sudah benar-benar membaik jadi kami bisa jalan sepuasnya. Sebenarnya kami sudah harus bangun dan berangkat pagi-pagi, kalau tidak, kami tidak akan kebagian. Sebagai anak pantai, "pagi" yang ada dalam pikiran saya adalah jam 02.00-05.00 karena kalau lebih dari itu, dulu saya tidak akan mendapat ikan yang segar-segar. Ternyata pagi itu di sini maksudnya adalah jam 07.00.wkwkwk. Kalau kata ibu saya, dicocok ayam tuh kalau bangun jam segitu. Yup kami berangkat jam 09.00. Setelah memarkirkan mobil di parkiran belakang daerah Treppen Viertel, kami berjalan kaki menuju Fischmarkt.
Mulai dari tempat parkir belakang Treppen Viertel- Fischmarkt
Suasana pasarnya bersih dan ramai. Ada pedagang yang berjualan di luar dan di dalam gedung. Pedagangnya berjualan tidak hanya ikan, tapi binatang seperti ayam, kelinci pung ikut di jual. Selain itu, ada penjual baju, peralatan rumah tangga, sayur dan buah yang didominasi oleh warga keturunan Turki dan penjual bunga. Yang beda dari Berlin, pedagang sayur dan buah ini juga menjual 1 paket buah dalam keranjang yang bertuliskan Hamburg dan dihargai 10 euro. Bahkan kita bisa melihat cara mereka membaginya. Mereka pun berjualan jus jeruk yang langsung di peras di tempat dan di jual dengan harga 2 euro. Hmm segar.